RSS

Nae Maeumi Molla 2

18 Agu

Author           : Shin Zia

Title                : Nae Maeumi, Molla [part 2]

Genre             : Romance, Sad

Cast:

Lee Donghae [SuJu]

Park Jiyeon [T-Ara]

Other

 

 

Aku hidup dengan sangat berkecukupan, tanpa kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Aku putri tunggal, dari seorang appa yang begitu menjunjung tinggi harkat dan martabat juga nama baik keluarga. Appa juga begitu membnci orang yang mengingkari janjinya. Dan dari sanalah semua bermula.

Sebenarnya, aku bukan anak tunggal dari kedua orang tuaku. Aku memiliki seorang kakak, yang akhirnya harus diusir oleh appa hanya karena menceraikan istrinya, hasil dari perjodohan yang appa lakukan, dan memilih untuk menikah dengan gadis pilihannya.
Bagi appa, oppa sudah mencoreng nama baik keluarga, yang selalu dijunjung tinggi olehnya.

Miris memang. Tapi beginilah appaku. Beliau selalu mengatakan kepadaku, jika cinta tidak akan membuatmu bahagia. Jika cinta hanya akan membawa penderitaan. Jika cinta hanya akan menyiksamu. Membuatmu terluka. Dan sejak saat itulah, aku memutuskan untuk selalu mengikuti apa yang dikatakan appa padaku.

Tapi.. ternyata godaan cinta terlalu besar. Hingga akhirnya aku berada disini. Menikahi seorang namja pilihan appa. Seorang pengacara muda bernama Lee Donghae.

^^^

Sudah satu jam sejak Jiyeon menangis dan membiarkannya larut dalam kesedihan setelah pernikahannya. Tapi kemudian dia tahu, dia tidak akan bisa menolak atau melawan appanya. Apapun yang dilakukannya nanti hanya akan membuatnya semakin membenci namja yang selama ini sangat dihormatinya itu.

Tepat pukul 11 malam, Donghae kembali ke kamarnya. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah menjamu semua tamu. Tidur, sepertinya bisa membuat lelahnya hilang.

‘Jiyeon-a! Apa kau didalam?’ tanya Donghae dari balik pintu kamar mandi saat mendapati Jiyeon tak ada di kamar.

‘Ne!’ jawab Jiyeon samar-samar.

Entah mengapa, mendengar Jiyeon yang sedang berada dikamar mandi membuat senyum tersimpul dibibir Donghae. Perlahan lelahnya hilang. Bahkan dia merasakan perasaan bahagia yang amat sangat. Apa mungkin dia sedang membayangkan malam pertamanya..??

Ceklek!

Mata Donghae langsung tertuju kearah Jiyeon yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wangi bunga dari sabun yang dipakai Jiyeon, menyeruak menusuk indera penciumannya. Membuat jantungnya berdegup dengan kencangnya.

Jiyeon masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah saat mata Donghae terpaku pada sosoknya. Hingga 10 menit berlalu, dan Donghae masih mematung, mengagumi kecantikan gadis yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertamanya itu.

Jiyeon yang tidak menyadari jika Donghae terus menatapnya, kemudian duduk ditepi ranjangnya.

‘Jiyeon-a! Mulai hari ini…’ Donghae menjeda kata-katanya. ‘Kita akan memulai hidup bersama.___ Mengapa kita tidak memulainya dengan kepercayaan?’ tanya Donghae meneruskan.

‘Karena kepercayaan, adalah pondasi dari setiap hubungan!’

Jiyeon hanya terdiam.

‘Mungkin seharusnya aku tidak mengatakan hal ini padamu!’

Donghae kini meraih tangan kiri Jiyeon dan menggenggamnya erat.

‘Apa kau tahu betapa bahagianya aku saat mendengar kau menerima perjodohan kita?’ tanya sembari sesekali menciumi tangan Jiyeon.

‘Aku tidak percaya, jika gadis seceria dirimu, mau menikahi laki-laki pendiam dan kaku seperti aku!’ imbuhnya. Dia menarik tangan Jiyeon, membuat gadis itu berbaring tepat disampingnya.

‘Aku putra dari seorang pengacara terkenal dan aku pun seorang pengacara…. Tapi aku selalu kalah dalam setiap kasusku!’ Donghae mulai bercerita tentang dirinya yang tak pernah dikatakannya pada orang lain.

‘Sejujurnya… aku tak bisa berbohong!’

‘Aku bisa memaafkan kesalahan apapun! Tapi tidak dengan kebohongan!’

Donghae lalu memiringkan tubuhnya, dan menumpunya dengan tangan kanannya. Menatap wajah istrinya dari dekat. Cantik. Hanya dengan menatapnya seperti ini, hatinya terasa tenang. Tapi, kenapa Jiyeon tak menatapnya sedikit pun? Gadis itu hanya menatap lurus kedepan. Tanpa sedikit pun melirik pada Donghae yang terus saja menatapnya.

‘Ah, sepertinya tubuhku bau!’ ujar Donghae yang merasa sikap Jiyeon dingin padanya. Dia beranjak dan meraih anduk dari dalam lemari.

‘Tidurlah jika kau lelah!’ ujar Donghae pada Jiyeon yang masih membeku ditempatnya berbaring. Dia lalu meninggalkannya dan masuk kedalam kamar mandi.

Donghae membiarkan air dari shower mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Terasa begitu segar. Tapi kemudian ingatannya melayang pada kejadian seharian tadi.

Benar. Jika Jiyeon tidak menolak menikah dengannya. Tapi, ada apa dengan sikapnya? Mengapa tampak bertolak belakang dengan Park Jiyeon yang ditemuinya beberapa bulan lalu.

Donghae mengusap wajahnya. Menyingkirkan air yang mengganggu penglihatannya.

‘Apa yang kau pikirkan Lee Donghae ssi?’ tanyanya pada bayangannya dicermin. ‘Mungkin istrimu hanya sedang sedih karena harus berpisah dengan semua keluarganya dan harus hidup dengan namja yang tak dikenalnya!’ lanjutnya mencoba menepis semua pikiran buruknya.

Donghae kembali ke kamarnya yang kini terlihat redup karena Jiyeon hanya menyalakan lampu tidurnya. Tapi kemudian, langkahnya terhenti saat tanpa sengaja kakinya menginjka sesuatu.

Donghae memungutnya dan…

‘Uri kyeolhon banji?’

Wae? Donghae mulai bertanya-tanya. Kenapa cincin pernikahan milik Jiyeon ada dilantai? Bukan dijari manis gadis itu?

Apa Jiyeon tidak menginginkan pernikahan ini? Apa dia tidak menyukaiku? Lalu kenapa dia tidak menolak perjodohan ini? Atau mungkin…..

Pertanyaan-pertanyaan itu tetus berlalu lalang dikepala Donghae. Membuatnya tetap terjaga meski matahari hampir menyapanya.

Donghae melirik jam dimejanya. 3.45 a.m. Dia menatap Jiyeon yang tampak sudah terlelap dan mulai mendekatinya.

‘Aku harus memastikan sesuatu!’ ujarnya dalam hati.

Donghae merapatkan tubuhnya ke tubuh Jiyeon. Mengikis jarak antara mereka. Sesekali, namja itu mencium leher dan telinga Jiyeon.

Jiyeon perlahan membuka matanya saat Donghae menarik tubuhnya, dan membuat gadis itu terbaring, dengan tubuh Donghae berada diatasnya.

Jiyeon hanya diam dan memejamkan matanya saat Donghae mulai menjilati lehernya. Tangan Donghae mulai meraba kaki Jiyeon, menyibak gaun malamnya dan mencoba meraih area sensitif dibawah sana sembari bibirnya terus menjilat dan menciumi leher Jiyeon.

Donghae mencoba mencium bibir Jiyeon.

Tapi…

‘Ah!’

Jiyeon mendorong paksa tubuh Donghae hingga menjauh darinya dan memberinya ruang untuk duduk.

‘Kenapa?’ tanya Donghae tenang. ‘Apa aku melakukan hal yang salah?’

‘Kita sudah menikah dan kita adalah sepasang suami istri!’ imbuh Donghae yang kini sudah terduduk dan menatap Jiyeon yang kini duduk membelakanginya.

‘Bukankah sudah sewajarnya jika aku memintamu melayaniku dimalam pertama kit…’

‘Eugh….’ geram Jiyeon yang langsung berdiri.

‘Jika bagimu hubungan suami isri adalah seperti ini…’ Jiyeon menggantung kata-katanya. Dari suaranya, terdengar jika dia begitu marah.

‘Baiklah!’

Sret!

Jiyeon merobek gaun malamnya, dan membiarkan tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam terekspos.

‘APA KAU SUDAH GILA?’ Donghae beranjak dari tempatnya duduk dan langsung menghampiri Jiyeon.

‘OMONG KOSONG APA YANG KAU KATAKAN?’

Donghae menarik selimut dan langsung menutup tubuh Jiyeon.

‘Apa kau pikir, aku menikahimu hanya untuk melakukan hal ini, eo?’

Nafas Jiyeon memburu karena amarahnya. Matanya tertuju pada satu titik dan terus menghindari tatapan mata Donghae yang sangat menakutkan.

‘Pernikahan bukan tentang hubungan fisik, tapi hati dan jiwa!’
Mata Donghae memerah. Rahangnya mengeras. Menandakan dirinya sudah benar- benar tak bisa menahan emosinya.

Jiyeon hanya terdiam dengan airmata yang mulai berlinang. Wajahnya terlihat begitu marah.

‘Sejak upacara pernikahan kita, aku merasa kau bukan Jiyeon yang pertama kali aku lihat dulu!’

Mau tidak mau, akhirnya emosi Donghae pun meledak.

‘APA YANG SUDAH TERJADI PADAMU?’ teriak Donghae yang marah dengan sikap Jiyeon padanya.

‘Apa kau tidak menginginkan pernikahan ini? Atau mungkin kau tidak menyukaiku, eo?’ tanya Donghae dengan nada mengintimidasi.

Jiyeon hanya diam. Dia masih menatap lurus kedepan, menghindari tatapan Donghae yang begitu menakutkan, dengan airmata yang masih berlinangan.

‘Malhae…. Malhaettago Jiyeon-a!’ mohon Donghae.

‘Katakan sebelum semuanya terlambat! Sebelum akhirnya kita harus berperang melawan satu sama lain demi mengakhiri hubungan ini!’

Diam. Jiyeon hanya diam mematung. Membuat amarah Donghae semakin meluap.

‘MALHAE…!!!’

Tapi Jiyeon tetap diam. Membuat Donghae semakin geram.

Ditariknya bahu Jiyeon dan dipaksanya duduk.

‘Aku sudah mengatakan padamu jika aku tidak bisa mentoleransi siapa saja yang berbohong padaku! ___ Jadi katakan padaku Jiyeon-a! Aku akan mendukungmu!’ Donghae melunak. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan ini yang dia harapkan. Dia sudah berjanji di depan altar bahwa dia akan membahagiakan Jiyeon. Tapi jika seperti ini…

Dia kini berlutut dihadapan Jiyeon yang tengah duduk disisi ranjang, dengan kedua tangannya berada dibahu Jiyeon.

‘Katakan padaku! Ku mohon katakanlah!’

Diam. Jiyeon memilih diam membisu, membuat amarah Donghae kembali tersulut.

‘Apa kau pikir kau bisa mendapatkan segalanya dengan diam?’

Donghae memegang kepalanya frustasi dengan sikap yang ditunjukkan Jiyeon.

‘Aku tidak ingin merusak nama baik keluargamu!’ Jiyeon membuka bicara. Datar. Dingin. Itulah sikap yang ditunjukannya.

‘Jika kita harus berpisah, maka kau yang harus mengajukannya terlebih dahul..’

‘Aaarrrggghhh…!’ teriak Donghae sebelum dia melemparkan cincin milik Jiyeon yang dia temukan ke ranjang.

‘Wae? Kenapa kau tak menolak pernikahan ini saja jika kau memang tak menginginkannya? Kenapa kau malah menyiksa dirimu seperti ini? Kenapa kau menyeretku dalam penderitaanmu, EO?’

BLAKKKK

Donghae membanting pintu dan meninggalkan Jiyeon yang masih saja mematung dalam kebisuannya.

Hari-hari berlalu setelah hari itu. Jiyeon terus diam, dan Donghae tak bisa lagi memaksanya. Hanya kemarahan yang ditunjukan Donghae pada Jiyeon.

Tak ada pembicaraan setiap kali keduanya bertemu dirumah besar itu. Dingin. Hanya sikap saling acuh tak acuh yang ditunjukkan kedua.

^^^

3 bulan berlalu..

Suasana kehidupan rumah tangga Jiyeon dan Donghae bagaikan kapal yang siap akan karam ke dasar laut. Bagaikan angin dingin yang berhembus di kutub utara, yang tak ada seorang pun yang tahu, kapan akan berhenti.

Setiap hari mereka bertemu tapi tak saling menyapa. Berada di tempat tidur yang sama, tapi saling memunggungi.

Jiyeon masih diam dengan semua kemarahannya pada ayahnya. Ani. Dia bukan marah karena ayahnya. Dia marah karena ketidakberdayaannya melawan ayahnya. Dia marah karena tidak bisa melawan semua keputusan ayahnya. Dia marah karena ternyata, dia harus merelakan dirinya menikahi namja yang tak pernah diinginkannya. Dan satu hal yang membuatnya diam demi mempertahankan pernikahan, adalah nama baik keluarga Donghae.

Yah, meski dia begitu membenci appanya, tapi dia tidak mungkin merusak nama baik keluarga Lee. Yang Jiyeon inginkan adalah perceraian. Dan Donghae-lah yang harus mengajukannya terlebih dahulu.

‘Hari ini eomma akan datang!’ Jiyeon membuka pembicaraan saat sarapan pagi. ‘Bisakah kau pulang lebih cepat hari ini?’ tanyanya.

Hening. Donghae tak langsung menjawabnya.

Merasa diabaikan, Jiyeon beranjak dari tempat duduknya sambil berkata,

‘Jika kau tak bisa pulang cepat, aku akan mengatakan pada eomma kalau…’

‘Akan aku usahakan!’ potong Donghae yang langsung pergi meninggalkan Jiyeon.

Pagi ini pun, Donghae harus kembali menahan segala kekesalannya. Bagaimana pun dia mencoba, Jiyeon tetap diam dan tak ingin mencerirakan apapun padanya.

3 bulan bukan waktu yang sedikit untuk mencoba mengetuk hati gadis itu. Tapi, kenapa hatinya sekeras tembok besi? Bahkan batu karang dilautan bisa terkikis oleh air yang selalu menerpanya? Lalu kenapa dengan hati Jiyeon?

Sesampainya di kantor, Donghae mencoba menyelesaikan semua berkasnya dengan cepat. Ibu mertuanya akan datang, dan setidaknya, dia harus menyapanya. Membuatnya merasa jika putrinya bahagia bersamanya.

At home…

Tepat pukul 1 siang nyonya Park, Jiyeon eomma datang. Setelah melihat-lihat isi rumah anaknya, dia pun duduk.

Ditatapnya Jiyeon yang kini duduk dihadapannya.

‘Apa yang kau pakai ini?’ tanya Ny. Park begitu melihat dandanan Jiyeon yang seenaknya. Bahkan tak ada polesan make up diwajahnya seperti saat gadis itu belum menikah dulu.

‘Apa kau mau mempermalukan suamimu?’

Jiyeon terdiam dan hanya menunjukan wajah dinginnya. Dia tahu, eommanya datang hanya untuk melakukan ini.

‘Eomma datang karena permintaan appamu!’ ujar Ny. Park.

‘Kau yakin?’ tanya Jiyeon dengan nada sinis. ‘Bukankah aku sudah dianggap mati oleh abeoji?’ lanjutnya. Sorot matanya yang tajam mengisyaratkan kemarahan dan kebencian yang amat sangat.

‘Orang tua mana yang bisa begitu saja menganggap anaknya mati, eo?’

‘ABEOJI!’ potong Jiyeon dan menatap wajah ibunya dengan tajam.

‘Sejak abeoji memisahkan aku dengan Dong gun oppa bukankah abeoji…’

‘Dong gun – Dong gun! Tidak bisakah kau berhenti menyebut namanya?’ kali ini ada nada memohon dari kalimat yang dilontarkan Ny. Park.

‘Kau sudah menikah nak! Tak bisakah kau meninggalkan masa lalumu dan menerima masa depan yang sekarang akan kau jalani?’

Jiyeon mulai menitikkan airmatanya.

‘Kau harus menyadari jika kau bukan lagi Jiyeon yang dulu.’

‘Ani!’ Jiyeon kembali menyela kata-kata ibunya. ‘Aku tetaplah Jiyeon yang dulu! Dan aku akan ….’

‘Hentikan Jiyeon-a!’ Kali ini, Ny. Park meninggikan nada bicara.

‘Hentikan sebelum kau menyesali apa yang kau lakukan hari ini. ___ Dong gun tidak akan pernah datang mencarimu, karena dia sudah berjanji pada appa…’

‘Yang sudah berjanji pada abeoji Dong gun oppa, bukan aku!’

‘PARK JIYEON!’

Tangan Ny. Park sudah melayang di udara, dan siap mendarat dipipi Jiyeon.

‘Apa kali ini eomma juga akan menamparku seperti yang dilakukan abeoji?’ mata Jiyeon memerah marah. Airmata masih terus berlinang disana. Sakit. Dia sudah menerima semua keputusan appanya. Tapi dia tidak bisa menahan perasaannya. Perasaannya yang sangat dalam bagi namja bernama Lee Dong gun.

Ny. Park memejamkan matanya. Diturunkan tangannya dan ditariknya nafas panjang.

‘Sepertinya tidak ada gunanya bicara baik-baik denganmu! ___ Appamu sedang sakit. Jadi eomma harap, kau tidak melakukan hal yang membuat kondisi appamu semakin memburuk!’

Ny. Park langsung beranjak dan siap meninggalkan rumah Jiyeon. Dan Jiyeon, hanya mengekori sampai Ny. Park masuk kedalam mobil.

‘Agassi!’

Supir Choi memberikan satu kotak kecil pada Jiyeon.

‘Kau harus membakarnya setelah membacanya!’ mohon supir Choi pada Jiyeon.

‘Kau harus membakarnya!’ ulangnya penuh penegasan.

Ny. Park dan supir Choi berlalu. Jiyeon segera berlari kekamarnya saat dia membuka kotak yang ternyata berisi beberapa surat dari Dong gun.

Jiyeon tersenyum dan terburu-buru membaca satu per satu isi surat yang sepertinya dikirim beberapa bulan sebelum pernikahannya.

Jiyeon terus membaca setiap surat, menaruh yang sudah dibaca diatas meja, dan mulai membaca yang lain.

Jiyeon tampak senang. Senyum terus tersungging dibibirnya. Hingga dia tidak menyadari, ada sepasang mata yang sudah menatapnya tajam dari pintu.

Lee Donghae. 10 menit sudah namja itu terus mengamati Jiyeon dengan surat-suratnya.

Selembar surat terjatuh dari ranjang, terbawa angin dan sampai di kaki Donghae.

Donghae lalu memungutnya dan membacanya. Dadanya bergemuruh begitu tahu isi surat itu. Matanya memerah, dan saat itu, Jiyeon melihat bayangan Donghae dari cermin dihadapannya. Dan….

‘Donghae ssi…’

‘Jadi ini yang kau lakukan dibelakangku, eo?’ tanya Donghae dengan suara gemetar akibat menahan amarahnya.

‘Donghae ssi aku bisa….’

‘Bukankah aku sudah mengatakan jika aku tak suka dibohongi?’ potong Donghae yang kini mencengkram pergelangan tangan Jiyeon erat.

‘Nawa!’ Donghae menarik tangan Jiyeon paksa dengan marahnya. Jiyeon meronta, mencoba melepas cengkrama tangan Donghae dipergelangannya.

‘Seperti inikah balasanmu padaku eo?’

‘Donghae ssi, aku bisa…’

‘Tak cukupkah kau melukai hatiku, dan kini kau mau mencoreng nama baik keluargaku?’

Brug!

Jiyeon terjatuh setelah ditarik paksa menuruni tangga dan kini terduduk.

‘Sudah berkali-kali aku katakan padamu, JANGAN BOHONGI AKU!’ teriak Donghae yang tak sanggup lagi menahan amarahnya.

Jiyeon menangis dan hanya tertunduk.

‘Aku bisa menjelaskan….’

‘Ani!’ Donghae kembali menyela kalimat Jiyeon. Dia kembali meraih tangan Jiyeon dan….

‘Aku akan mengantarkanmu kembali kerumahmu!’

Deg!

TBC….

***

Annyeong…..

Adakah yang nungguin kisah HaeJi Couple selanjutnya..

Ini nih.. Zia bikin jadi 3 part yah.. dan ini part keduanya. Mudah-mudahan g kependekan kaya part 1 nya.

Monggo dikoment yah…

Insya allah Zia posting lanjutannya minggu depan..

Annyeong….

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Agustus 2016 in FF

 

Tag: , , ,

One response to “Nae Maeumi Molla 2

  1. Ayunie CLOUDsweetJewel

    18 Agustus 2016 at 9:51 am

    Huweeee…. Kasihannya DongHae, tapi gak bisa menyalahkan Jiyeon sepenuhnya, bingung dech gue TT_TT Nikah baru beberapa bulan masa harus berakhir sich

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: