RSS

Wae… (Why…)

13 Mei

Wae… (Why…)

Author : Shin Zia

Title : Wae.. (Why…)

Genre : Romance, Sad

Cast :
– Kim Himchan (B.A.P)
– Kim Yoojung (OC) (May Queen, The Moon That Embrace The Sun)
– Bang Yongguk (B.A.P)
– Other cast

Length : Twoshoot

****

Annyeong…

Tiba-tiba kepikiran buat bikin after storynya grave digger series ( Grave Digger, Nugu…??? (Siapa…???), Naya… (It’s Me…), Mianhata… Saranghanta), jadi ada ff ini dech. Aku bikin jadi 2 part yah.

Ini baru part awalnya.

Woke dech. Walau masih banyak typo bertebaran dimana-mana, mudah-mudahan readersdeul masih bisa menikmati bacaan ini.

Selamat membaca

****

Saat kau pergi meninggalkanku, apa kau pernah memikirkan bagaimana keadaanku nanti?

****

‘Eo? Oppa! Kau sudah datang?’

Yongguk tersenyum dan mengangguk pada hoobae dan juga partnernya dirumah sakit tempatnya bekerja itu.

Gadis cantik berambut panjang itu terus menatap yongguk. Dia tahu sepertinya yongguk sedang menyembunyikan sesuatu.

‘Oppa! Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan? ___ Apa sahabatmu baik-baik saja?’

Yongguk menarik nafas panjang dan tertunduk. ‘Dia terlihat kacau!’ jawab yongguk lirih. ‘Sepertinya dia sangat mencintai istri yang ternyata adik kandungnya itu!’

Gadis itu tertegun. ‘Istri yang ternyata adik kandungnya?’ tanyanya kemudian. Sedikit bingung dengan penjelasan yang diberikan yongguk padanya.

Yongguk kini menengadahkan kepalanya. Dia kembali menarik nafas panjang, seolah beban yang dipikulnya begitu berat.

‘Yoojung-a! Haruskah aku membawanya kesini?’

****

Seorang namja terlihat sibuk didapur rumah besar milik keluarga park dengan peralatan masaknya. Senyuman menawan terukir dibibir namja itu. Setelah hampir 30 menit, akhirnya dia menyelesaikan masakannya dan segera membawanya ke meja makan untuk dihidangkan.

2 piring nasi goreng kimchi. Yah, 2 piring.

Namja itu menata piring itu diatas meja makan dengan berhadapan. Setelah dia yakin menata meja dengan rapih, namja itu kemudian berlari kecil ke kamarnya seolah ingin memanggil seseorang.

‘Jiyeon-a!’

 
Himchan side

‘Jiyeon-a!’

Detakan jantungku terasa terhenti begitu gadis itu menolehkan wajahnya dan tersenyum padaku. Ya tuhan! Terima kasih karena kau telah menjadikan dia untukku.

‘Ayo makan!’ ajakku sembari berjalan mendekat kearahnya dan kemudian memegang bahunya.

Anggukan dan senyuman. Sudah lama sekali jiyeon terus seperti itu padaku. Aku sebenarnya ingin bertanya padanya kenapa setelah malam itu dia jadi diam dan tak pernah bicara sepatah kata pun padaku?

Yah! Sejak malam dimana jiyeon memintaku untuk melupakan bahwa dia….

Aniya! Jiyeon bukan adikku. Bukan. Dia bukan adikku. Dia istriku. Gadis yang sangat aku cintai. Aku tak peduli siapa dia. Walau dia seorang pembunuh. Bukankah dia melakukan semua itu karena dia juga mencintaiku.

Sret!

‘Eo!’ aku menoleh kearah jiyeon ketika tangannya menyentuh tanganku.

‘Apa kau sudah lapar?’ tanyaku. Ah, sepertinya aku terlalu banyak melamun hingga aku mengabaikannya.

Gadis ini kembali tersenyum dan mengangguk padaku.

‘Kaja!’ aku mengangkat kedua bahunya dengan kedua tanganku dan menariknya menuju meja makan.

Dia duduk dihadapanku. Sesekali aku mencuri pandang menatapnya yang sepertinya begitu menyukai nasi goreng buatanku. Membuatku tersnyum setiap kali dia menyuap nasi goreng itu dan memasukkannya kedalam mulutnya.

‘Aigoo! Apa kau begitu lapar?’ tanyaku padanya ketika nasi dipiringnya lebih cepat habis dibanding dengan yang ada dipiringku.

Dia hanya tersenyum sembari mengangkat bahunya.

 

Writer side

‘Channie-ya!’

Himchan segera menolehkan wajahnya ke arah pintu ketika dia mendengar suara memanggilnya.

‘Eo?’ senyum terukir dibibirnya ketika dia melihat sosok yang tadi memanggilnya.

‘Chagi-ya! Chamkan!’ katanya pada jiyeon sebelum beranjak dari meja makan dan meninggalkan jiyeon untuk menemui namja yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.

‘Yongguk-a!’

Himchan segera memeluk sahabatnya yang hampir 2 bulan ini tak ditemuinya itu. Dan namja yang dipanggil yongguk itu balas memeluknya.

‘Wah! Kau sudah jadi tuan besar rupanya!’ ujar yongguk begitu melihat rumah yang kini ditinggali oleh himchan.

Himchan hanya tersenyum dan kemudian mempersilahkan yongguk untuk duduk. Mereka asik mengobrol dan terus bicara panjang lebar.

‘Eo, kau sedang makan?’ tanya yongguk yang tanpa sengaja melihat ke meja makan.

Himchan menoleh dan tersenyum menatap jiyeon yang masih duduk dikursi meja makan sembari tersenyum padanya.

‘Eum!’ jawab himchan pendek. ‘Ah matta!’ himchan beranjak dan menarik yongguk ke meja makan.

‘Yongguk-a! Kenalkan! Dia istriku, park jiyeon!’ ujar himchan membawa yongguk ke ruang makan dan membuatnya berdiri dihadapan jiyeon.

‘Chagi-ya! Ini yongguk, sahabatku!’ tambah himchan yang disambut senyuman oleh jiyeon.

Yongguk menatap himchan dengan tatapan sedih.

‘Wae? ____ Apa kau tak menyangka jika aku bisa mendapatkan istri secantik jiyeon?’ tanya himchan begitu melihat ekspresi wajah yongguk. Himchan kembali menatap ke arah kursi dimana jiyeon duduk dengan senyuman yang masih bertengger dibibirnya.

‘Channie-ya!’

‘Eum!’ sahut himchan tanpa menoleh ke arah yongguk sama sekali. Matanya terus menatap sosok jiyeon yang ada dihadapannya.

‘Disini ____ tak ada siapa pun selain kau dan aku!’

Deg!

Himchan langsung menoleh ke arah yongguk dan menatapnya dengan tatapan dingin.

‘Jiyeon ada bersama kita yongguk-a!’ katanya dengan ekspresi wajah dingin. Senyuman yang tadi masih tersungging dibibirnya kini hilang.

Yongguk menatap himchan iba. ‘Channie-ya! Jiyeoni-ka… dia…’

‘Chagi-ya!’ potong himchan yang kembali menatap ke arah jiyeon.

Kosong. Dikursi itu kini kosong. Tak ada sosok jiyeon yang tadi dikenalkan pada yongguk.

‘Jiyeon-a!’ himchan mengedarkan pandangannya mencari sosok jiyeon yang sedari tadi dianggapnya ada dihadapannya. Dia mulai berjalan keseluruh ruangan mencari jiyeon. Langkah-langkah kecilnya berubah menjadi langkah lebar.

Matanya liar menjadi sosok jiyeon diseluruh penjuru ruangan.

‘Jiyeon-a! Park Jiyeon!’

Yongguk tertegun menatap sahabatnya. Dadanya terasa sesak. Ini kah yang terjadi pada himchan setelah kematian jiyeon 3 bulan yang lalu? Ini kah himchan yang dulu dikenalnya?

‘Channie-ya!’ yongguk mulai mengikuti langkah himchan dan mencoba menahannya agar berhenti dan tidak lagi mencari sosok jiyeon yang sampai kapanpun tidak akan pernah ditemuinya.

‘Jiyeon! Park Jiyeon!’ himchan tak menghiraukan panggilan yongguk dan terus berjalan mengelilingi rumahnya mencari jiyeon.

‘Channie-ya!’ kali ini yongguk menarik tangan himchan agar dia berhenti, namun dengan segera himchan menepisnya dan kembali melangkah.

‘Channie…’

‘Aku harus mencarinya!’ potong himchan penuh luka. ‘Dia selalu sendiri. Aku harus menemaninya yongguk-a!’ lanjutnya semakin kacau.

Grep!

Himchan langsung menoleh dan menatap tajam ke arah yongguk ketika tangan kekar yongguk memegang tangannya dan berhasil membuatnya menghentikan langkahnya.

‘Yongguk-a!’

‘Channie-ya!’ yongguk menjeda kata-katanya. Berpikir apa sebaiknya dia melanjutkannya atau tidak. Tapi…

‘Jiyeoni-ka ___ jugeosseo!’

Deg!

Mata himchan membulat. Dadanya terasa bergemuruh. Tangannya gemetar.

‘Jiyeoni-ka… jugeosseo!’ ulang yongguk yang sebenarnya tak tega menyampaikan kenyataan itu pada sahabatnya.
Himchan side

‘Jiyeoni-ka… jugeosseo!’ yongguk mengulangi kalimatnya.

‘Aniya!’ aku gelengkan kepalaku berulang kali. ‘Aniya! Maldo andwae! Jiyeoni-ka saraitda! ‘ (masih hidup) tambahku.

‘Saraitdago!’ aku mengulang kalimatku dengan setengah berteriak.

Penglihatanku perlahan mengabur bersamaan dengan air mata yang mengalir darinya. Wae? Kenapa semua orang selalu berkata jika jiyeon sudah mati? Kenapa semua orang mengatakan jika istriku sudah tak ada lagi di dunia ini?

‘Channie-ya!’

‘Jiyeon masih hidup!’ potongku menepis tangan yongguk dan berjalan ke arah ruang makan.

‘Tadi dia makan bersamaku dan menghabiska…’

Wae? Kenapa piring jiyeon masih penuh dengan nasi gorengnya? Bahkan tak berkurang sedikit pun. Bukankah tadi dia sudah menghabiskannya? Bukankah dia tadi…

‘Dia sudah pergi channie-ya!’

Deg!

‘Aniya!’ sangkalku sembari menggeleng. ‘Dia masih hidup! Dia masih….’

‘Apa kau lupa jika kau yang menggalikan kubur untuknya?’

Degdeg! Degdeg!

Jiyeon-a… jiyeon-a…

Kenangan-kenangan itu kembali melintas dikepalaku. Bagaikan cuplikan-cuplikan dimana jiyeon mati dihadapanku dan aku tak bisa berbuat apa-apa.

‘Channie-ya! Jiyeon sudah….’

Aku merasa kakiku lemah tak bertulang. Aku jatuh terduduk dan hanya bisa menatap kosong ke depan.

‘Channie-ya! Jiyeon sudah meninggalkan kita! Meninggalkan dunia ini! Tak bisakah kau merelakan dia dan…’

‘Aku sangat mencintainya!’ potongku. Yah! Aku sangat mencintainya. Sangat. Tak peduli kalau dia adikku. Tak peduli kalau dia seorang pembunuh.
Writer side

‘Aku sangat mencintainya!’ poong himchan sebelum yongguk menyelesaikan kalimatnya.

Yongguk menarik nafas panjang. Kenapa himchan jadi seperti ini? Itu yang ada dipikirannya. Dia kemudian berjongkok dan memegang bahu himchan.

‘Channie-ya…’

‘Tak bisakah aku menyusulnya?’

Deg!

‘MWO? MWORAGO?’ yongguk kini memegang kerah baju himchan. Dia begitu marah dengan kalimat yang baru saja keluar dari bibir sahabatnya itu.

‘Aku ingin menyusul…’

BUG!

Tubuh himchan terkulai setelah yongguk melayangkan tinjunya pada pipinya.

Kini himchan terbaring lemah dengan pandangan kosong. Matanya terus mengalirkan airmatanya.

‘Neo… Apa kau pikir dengan kau menyusulnya kau akan…’

‘Aku tak bisa bernafas!’ potong himchan dengan airmata yang semakin deras. ‘Jiyeon, sudah membawa sebagian dari hidupku!’

‘Eugh!’ yongguk meninju tembok yang ada disampingnya. Kesal! Marah! Juga perasaan sedih kini bercampur. Kalau saja dia tahu semua dari awal, mungkin dia bisa menghalangi sahabatnya itu untuk jatuh cinta pada adik kandungnya sendiri.

Lama keduanya saling diam. Himchan masih terbaring lemah. Airmatanya kini sudah berhenti mengalir. Tapi tatapannya masih tetap kosong.

‘Yongguk-a!’

Yongguk menoleh menatap himchan.

‘Bisakah kau membunuhku?’

Deg!

****

Rumah Sakit Haneul

Himchan duduk disalah satu bangku taman sembari sesekali tersenyum. Matanya terpejam dengan aerphone di telinganya. 2 bulan sudah dia menjalani terapi kejiwaan dirumah sakit haneul.

Hari itu, saat dia meminta yongguk untuk membunuhnya, yongguk membawanya ke rumah sakit itu. Awalnya himchan menolak. Tapi katena yongguk mengatakan bahwa dia akan membunuhnya disana, himchan segera mengikutinya.

Selama hampir 2 bulan ini, himchan terlihat hidup normal. Dia tidak pernah mengungkit tentang ingin mati atau pun jiyeon. Tersenyum. Itulah yang selalu dilakukannya. Walau tak jarang dia bertingkah bagai anak kecil, tapi dia tidak terlihat seperti pasien dengan gangguan jiwa.

Yongguk merasa lega dengan sikap himchan yang tak lagi mengingat dan mengungkit tentang jiyeon dan kematian. Sebagai dokter yang menanganinya, yongguk selalu memantau kestabilan jiwa himchan.

‘Channie-ya!’

Himcan segera membuka matanya dan melepas aerphonenya ketika yongguk datang dan duduk disampingnya.

‘Eotte? Kau suka disini?’ tanya yongguk. Yongguk begitu peduli pada himchan, karena ayah himchan yang dulu membawanya dari panti asuhan. Itu saat himchan dan dia berumur 5 tahun.

Tuan kim membawa yongguk untuk menemani himchan yang hanya sendiri. Tapi saat tuan kim meninggal dan himchan kembali ke desa, yongguk tetap tinggal dikota.

Himchan mengangguk.

‘Yongguk-a! Kapan kau akan membawaku keluar dari sini?’ tanya himchan antusias.

‘Wae? Kau bosan disini?’

‘Eo!’ jawab himchan mantap. ‘Disini terlalu banyak orang yang bersikap aneh! Kau tahu ____ Dr. Kim! Dia juga tak pernah bersikap baik padaku!’

Yongguk terkekeh mendengar penjelasan himchan. Inilah himchan saat ini. Dengan sikap inilah dia mengubur semua kenangan buruknya tentang jiyeon istri yang ternyata adik kandungnya itu.

Yongguk tahu jika ini bukanlah cara yang baik, karena jika suatu saat dia mengingat semuanya, dia pasti akan lebih terluka dan lebih hancur. Tapi untuk saat ini, hanya inilah yang bisa dilakukannya untuk sahabatnya itu.

‘Nanti!’ jawab yongguk. ‘Aku akan membawamu pulang nanti!’

‘Geurae!’ sambung himchan. Dia kembali memakai aerphonenya dan kembali memejamkan matanya.

Yongguk tersenyum. Setidaknya dia bisa melihat himchan tersenyum lagi. Setidaknya dia bisa membuat himchan melupakan semua luka hatinya yang sangat dalam. Setidaknya…
Himchan melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sore yang cukup serah. Setelah seharian dia berada ditaman rumah sakit dengan aerphonenya, kini himchan kembali ke kamarnya.

Himchan berjalan sembari menoleh ke kanan dan kekiri menatap isi kamar yang kebetulan pintunya terbuka. Kadang dia tersenyum melihat teman-temannya disana.

Tapi, langkah himchan tiba-tiba terhenti ketika dia melihat dr. kim, sedang menyuntik salah satu pasein yang ada tepat dikamar sebelah kamar himchan.

‘Andwae!’ lirihnya yang kemudian melangkah masuk ke dalam kamar itu dan langsung mengambil paksa jarum suntik ditangan dr. Kim.

‘Ya! Apa yang…’

Deg!

Yoojung terkejut begitu mendapati himchan sudah berdiri disampingnya dan meraih jarum suntik dari tangannya.

‘Himchan ssi!’

‘Jiyeon!’ panggil himchan sembari terus menatap jarum suntik ditangannya.

Yoojung segera meraih ponselnya dan menghubungi yongguk. Dia ingat pesan dari yongguk bahwa himchan harus dijauhkan dari jarum suntik.

‘Jiyeon-a!’ ulangnya dengan tangan bergetar.

‘JIYEON-A!’ himchan segera berlari keseluruh ruangan. Seperti orang gila, dia terus berteriak memanggil jiyeon. Jarum suntik itu masih ada ditangannya. Langkahnya semakin cepat.

‘Oppa! Bisakah kau kemari? …… Himchan ssi! Dia …..’

Yoojung masih terus berjalan mengikuti himchan bersama dengan beberapa orang petugas keamanan.

‘Jiyeon-a! Andwae! Andwae!’

Tap tap tap *anggap langkah kaki yang lagi lari.

Yongguk segera berlari dan menerobos beberapa petugas keamanan yang kesulitan untuk menangkap himchan.

‘Oppa.. aka…’

Yongguk tersentak ketika mendapati jarum suntik ditangan himchan. Inilah yang ditakutkannya. Jarum suntik. Himchan menemukan benda itu dan akan menariknya kembali ke hari dimana jiyeon bunuh diri dihadapannya.

‘Channie-ya…’

‘Jiyeon! Dia dimana yongguk-a?’ potong himchan. Matanya masih liar encari sosok jiyeon.

Yongguk memberi isyarat pada beberapa petugas rumah sakit yang siap menangkap himchan. Dan…

Hap….

‘Noa!’ (lepas) perintah himchan ketika tubuhnya tertangkap oleh dua orang petugas keamanan rumah sakit.

‘NOA!’ ulangnya sembari berontak. Sayangnya, tenaga kedua petugas itu begitu besar hingga himchan tak bisa melepaskan diri darinya.

Dengan berat hati yongguk memerintahkan para petugas itu untuk mengikat tubuh himchan pada ranjangnya.

‘Yongguk-a! Noa! Aku harus mencari jiyeon! Aku harus mencarinya! Dia sendirian! Dia akan ketakutan!’

Yoojung sudah siap menyuntikkan obat penenang pada himchan.

Yongguk hanya menatap sedih ke arah himchan. Dia tidak tega melihat keadaan sahabatnya itu.

Yongguk melangkah meninggalkan ruangan himchan dan mencoba untuk tak menghiraukan semua teriakan dan permohonan himchan agar dia melepaskannya.

‘Kau… Kau mau apa? Kau mau membunuhku eo? Kau…’

Yoojung sudah menyuntikkan obat penenang ke tubuh himchan. Perlahan suara namja itu teredam bersamaan dengan matanya yang mulai tertutup saat obat itu bereaksi ditubuhnya.
Yoojung berjalan menghampiri yongguk yang duduk dikursi yang ada didepan ruangan himchan. Gadis itu kemudian duduk disamping yongguk yang masih juga menundukkan kepalanya terlihat begitu frustasi.

‘Oppa….’

‘Jiyeon…’ yongguk menahan kalimatnya. Ditegakkan tubuhnya dan kemudian menyandarkan bahunya disandaran kursi.

‘Bunuh diri dihadapan himchan dengan cara menyuntikan racun pada tubuhnya sendiri!’ lanjut yongguk mulai menjelaskan.

Yoojung terdiam. inikah alasan yongguk selalu melarangnya memberikan suntikan pada himchan jika namja itu masih membuka matanya?

‘Jarum suntik! ___ himchan akan berteriak histeris dan mulai mencari jiyeon jika dia kembali menemukan benda itu!’

Yoojung hanya diam dan mendengarkan penjelasan yongguk dengan seksama.

‘Apa kau tahu bagaimana keadaan himchan ketika aku datang menemuinya 2 bulan lalu?’

Yoojug menggeleng. Dia memang tidak tahu bagaimana keadaan himchan saat itu. dia bertemu dengan himchan saat namja itu dibawa kerumah sakit oleh yongguk 2 bulan lalu. Dengan keadaan seperti mayat hidup. Tak pernah bicara atau pun berinteraksi dengan orang lain selama beberapa hari.

‘Dia menganggap jiyeon masih hidup dan selalu bersamanya!’ lanjut yongguk mengingat kembali kejadian 2 bulan lalu sebelum akhirnya dia memutuskan untuk membawa himchan kerumah sakit dimana dia bekerja.

‘Oppa, apa maksud dari istri dan juga adik kandungnya?’ tanya yoojung yang masih bingung dengan penjelasan yongguk ketika dia pertama kali menceritakan tentang himchan beberap bulan yang lalu.

‘Himchan dan jiyeon… mereka satu ibu!’

Yoojung membulatkan matanya tak percaya.

‘Himchan mengetahuinya setelah mereka menikah! ____ dan jiyeon meninggal dihari ketiga pernikahan mereka!’

Deg!

Yoojung tertegun. Cerita yang menyedihkan ini… siapa pun yang mengalaminya pasti akan merasakan hal yang sama dengan apa yang dialami himchan. Atau bahkan, jika itu terjadi pada dirinya, dia akan menjadi gila dihari itu juga.

Yongguk masih terus terdiam. kepalanya terasa kosong dan tak bisa memikirkan jalan keluar apapun untuk menyelamatkan sahabatnya dan menariknya kembali ke dunia dimana mereka berada sekarang.

Reaksi himchan tadi, jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan apa yang selama ini dibayangkannya.

‘Oppa! Bolehkan aku membantumu?’

Spontan yongguk menoleh menatap yoojung. ‘Yoojung-a…’

‘Biarkan aku mencoba untuk membantumu oppa!’ ulang yoojung mantap.

‘Yoojung-a…’

‘Tapi mungkin caraku bisa membuatnya semakin terpuruk jika tak berhasil nanti!’ potong yoojung mengutarakan hal terburuk yang mungkin akan terjadi jika dia melakukan apa yang ada dalam pikirannya sekarang.

Yongguk hanya terus menatap yoojung. Tak ada keraguan dikedua mata yoojung. Yang di dapatnya hanya tekad, dan keinginan untuk menyembuhkan sahabatnya itu.

‘Oppa, bagaimana?’ tanya yoojung yang masih menunggu jawaban yongguk. ‘Apa kau akan mengijinkanku untuk melakukannya? Dengan kemungkinan terburuknya?

TBC

****

Segitu dulu yah…

Jangan lupa untuk meninggalkan komentar. Walau ga bisa aku bales, tapi aku bacain semua satu-satu kok…

Oe dech.. gomawo udah mampir di blog aku yang masih acak-acakan ini…

Annyeong…

Iklan
 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Mei 2014 in FF

 

Tag: , , , , ,

14 responses to “Wae… (Why…)

  1. Misi

    13 Mei 2014 at 2:20 pm

    sad ffnya…
    himchan gakk trima jiyeon udah mninggal
    sdih bgd hidup himchan punya isteri malah adik kandung sndri,,,
    ditunggu lanjutan
    penasaran….

     
  2. dongrim

    13 Mei 2014 at 10:18 pm

    jangan2 tu dokter mau…….
    ditunggu lanjutannya

     
  3. venny98

    15 Mei 2014 at 3:03 pm

    Kasian himchan 😦 dia ga bisa trima ama kematiannya jiyeon yaa..

    Apa yoojung mw nggantiin jiyeon? Trs hubungannya yoojung ama yongguk apa thor? Temen kerja doang?
    Lanjut thorr 😀 fighting!

     
  4. Shin Zia

    20 Mei 2014 at 1:21 am

    Reblogged this on Yadong Fanfic Indo.

     
  5. dee

    20 Mei 2014 at 2:22 am

    sedih bgt. Kenyataan yg pht

     
  6. christiejaena480

    20 Mei 2014 at 2:55 am

    sedih, kenapa bunuh diri? Jadi penasaran akan jawabannya…next ditunggu kelanjutannya..

     
  7. eka chandra

    20 Mei 2014 at 5:14 am

    Sdihh banget sih..
    Klo aku jdi himcan bsa mati bunuh diri ngeliat kya gitu

     
  8. pyonim

    20 Mei 2014 at 2:30 pm

    Like it.. D tunggu klanjutannya..

     
  9. shinta^o^

    20 Mei 2014 at 11:34 pm

    Ini ff yg menyedihkan bgt deh.. 😥
    Tp bagus kok..
    Lanjutin ya kak 🙂 penasaran nih..
    Semangat!!!

     
  10. soolingkey

    21 Mei 2014 at 2:18 pm

    Kok jadi sedih aja lihat Himchannya? Apa yang mau Yoojung lakuin?

     
  11. Hyunbaek

    22 Mei 2014 at 6:49 pm

    Kasian channi oppa..nggak tega channi oppa jdi kyak gtu.!?
    Aduh pnasaran bnget thor,,kra2 apa rencana yoojung ya?! Smoga rencananya berhasil ajj and channi oppa bsa sembuhh..next thor

     
  12. adelia

    25 Mei 2014 at 7:49 pm

    bagus thor:”) kasian juga himchan gagal moveon gt sama adik kandungnya T_T tp pas dia tau kl jiyeon adiknya kok ga diceritain ya sm jiyeon bunuh di gara2 apa ya thor ‘-‘)? thor di tunggu part 2 nya penasaran bgt ini xD tq

     
  13. qyunyuk

    31 Mei 2014 at 9:16 pm

    perih bgt tuh…
    baru juga nikah udh di tampar keras sma kenyataan pahit.. trus di tinggal mati.. alamak! ngeri kali…
    next thor! penasaran..

     
  14. diah.dimin

    7 Februari 2016 at 9:05 pm

    huaaaa masih syok aq jiyinya gada duluan..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: