RSS

Mianhata… Saranghanta

16 Apr

Mianhata Saranghanta Cover

Mianhata… Saranghanta

 

Author           : Shin Zia

Title                : Mianhata… Saranghanta (Sequel Naya)

Genre                        : Sad

Cast                :

–         Kim Himchan (B.A.P)

–         Park Jiyeon (T-Ara)

–         Other Cast

 

***

Annyeong…

Aku datang bawa last part dari grave digger series.. Mian yah kalo postingnya lama. Bang idenya datangnya ga bisa diduga.

Setelah Grave Digger, Nugu…??? (Siapa…???), dan Naya… (It’s Me…), ini last part dari himchan-jiyeon couple yah…

Ga usah banyak babibu dech. Jangan lupa tinggalkan komentar dan mohon jangan dibash yah.

Selamat membaca!

Mian, masih banyak typo. 😀

***

Ketika tak ada lagi yang bisa aku dapatkan, aku akan kembali sendiri. Kebahagiaan yang baru saja aku kecap, harus kurelakan begitu saja.

Mianhata… Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu..

Saranghanta…

***

Himchan masih berdiri membelakangi jiyeon. Dia mencoba menahan amarahnya agar tak meledak karena mungkin dia bisa menyerang jiyeon dan membuat gadis itu terluka.

‘Oppa!’ lirih jiyeon yang kini berjalan mendekat kearah himchan.

‘Kau kenapa?’ tanya jiyeon yang kini sudah melingkarkan tangannya dipinggang himchan. Memeluk namja itu dari belakang.

‘Apa kau sudah menemukan siapa pembunuh itu?’ tanya jiyeon yang terlihat ketakutan. Matanya tak pernah fokus untuk menatap ke sebuah objek. Dia terlihat gelisah dan ketakutan.

Himchan hanya bisa membulatkan matanya ketika mendengar semua pertanyaan yang dilontarkan jiyeon padanya.

‘Kau jangan pergi lagi oppa!’ pinta jiyeon mengeratkan dekapannya pada himchan. ‘Aku takut jika pembunuh itu datang dan akhirnya menyerang…’

‘Geumanhae!’ potong himchan melepas dekapan jiyeon dan berbalik menatap gadis itu.

 

‘Wae oppa? Apa kau sudah menemukan pembunuh itu?’ tanya jiyeon lagi terlihat seperti orang gila. ‘Apa pembunuh itu akan datang dan mengincarku? Atau pembunuh itu…’

‘GEUMANHAE!’

Deg!

Jiyeon terdiam mematung ketika himchan berteriak tepat dihadapannya. Mata himchan memerah. Terlihat sekali jika dia sedang benar-benar emosi dan siap menerjang jiyeon jika saja jiyeon bukan seorang gadis.

‘Oppa!’

‘Eo! Nan ni oppa!’ jawab himchan setengah berteriak. Jiyeon kini hanya kembali mematung menatap himchan dengan wajah yang memucat.

‘Wae? Apa kau pikir aku tidak akan pernah tahu?’ tanya himchan terlihat begitu marah. ‘Apa kau pikir dengan membunuh samcheon kau akan menutup semua rahasia yang ada diantara kita?’

‘KAU PUAS SUDAH MEMBUATKU MENIKAHI DAN MENIDURI ADIK KANDUNGKU SENDIRI EO?’ teriak himchan yang tidak tahan mengingat semua dosa yang telah dilakukannya.

‘Geumanhae!’ lirih jiyeon sembari menutup telinganya dan menunduk ketakutan. Gadis itu terisak ketakutan.

‘Geumanhae!’ ulangnya yang kembali menatap kosong kedepan. ‘Geumanhae!’ ulangnya lagi semakin terlihat kacau. ‘Geuman….’

Brug!

Tubuh jiyeon terkulai ke lantai. Gadis itu kembali tak sadarkan diri.

Himchan menarik nafas panjang. Ditengadahkannya wajahnya, menahan airmatanya yang siap mengalir membasahi wajahnya.

Perlahan dia berjongkok. Dengan ragu tangannya terjulur untuk menyentuh wajah jiyeon yang terlihat pucat. Hingga akhirnya dia mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya kedalam kamar.

Himchan hanya duduk disofa yang tak jauh dari tempat jiyeon terbaring. Pikirannya benar-benar kalut sekarang. Dia akhirnya tahu tentang jiyeon, karena nam gyeongchal dan jang geomsa yang diam-diam menyelidiki mereka berdua karena curiga dengan sikap soo ro yang selalu terlihat ketakutan jika keduanya datang menjenguknya.

Flashback

Dihari kematian kim ahjussi…

Himchan meninggalkan jiyeon dan soo ro karena nam gyeongchal memanggilnya.

‘Himchan ssi!’

‘Ne! Apa ada petunjuk lain tentang pelaku membunuhan itu?’ tanya himchan ketika nam gyengchal memanggilnya.

Nam gyeongchal dan jang geomsa hanya saling menatap sebelum mereka akhirnya menyerah sebuah amplop berwarna coklat pada himchan.

‘Mianhaeyo himchan ssi!’ ujar jang geomsa ketika himchan membuka dan membaca beberapa berkas yang sudah dikumpulkannya tentang jiyeon dan dirinya.

Himchan terdiam ketika membaca berkas itu. Matanya tertuju pada sebuah nama yang tertulis disana. Nama ibunya, dan ibu Jiyeon. Han hye jin.

Himchan menatap nam gyeongchal dan jang geomsa bingung.

‘Ige mwoeyo?’ tanya himchan yang terlihat bingung.

Nam gyeonchal dan jang geomsa kembali saling menatap.

‘Kami akan menjelaskan semuanya pada anda malam ini!’ ujar jang geomsa menjawab kebingungan yang dilontarkan tatapan himchan padanya.

‘Keundae geomsanim…’

‘Setelah kami menjelaskan semua pada anda, kami baru akan menanyai paman anda!’ potong jang geomsanim.

Himchan terdiam dan hanya menatap jang geonsa dan nam gyeongchal bergantian. Lama dia berpikir. Hingga akhirnya…

‘Algaesseoyo!’ ujar himchan yang kemudian meninggalkan 2 petugas penegak keadilan itu.

Himchan langsung berpamitan pada soo ro dan mengajak jiyeon kembali kerumahnya.

‘Chagiya! Sepertinya aku harus pergi ke kota sebentar! Apa tidak apa-apa?’ tanya himchan setelah mengantar jiyeon pulang.

Jiyeon tersenyum. ‘Gwaenchanna oppa!’ jawabnya.

‘Jinjja?’ tanya himchan khawatir.

‘Eo! Gwaenchanna!’ jawab jiyeon lagi meyakinkan himchan.

Himchan lalu mencium kening jiyeon. ‘Kau diam dirumah saja!’ perintahnya. ‘Aku akan pulang besok pagi!’ lanjutnya yang kemudian berlalu.

Himchan segera melajukan mobilnya menuju kota. Berkas yang diterimanya dari jang geomsa tadi membuatnya sedikit terganggu. Nama ibu jiyeon, sama dengan nama ibunya.

Sebelum himchan ke kota, dia kembali kerumah sakit untuk menanyakan hal itu pada soo ro. Karena apa yang ada dalam pikirannya sekarang, mungkin akan terjawab jika dia menanyakannya pada soo ro.

Himchan masuk kedalam kamar rawat soo ro. Namja paruh baya itu masih terlelap. Membuat himchan hanya terdiam dan hanya menatapnya.

‘Samcheon!’ lirih himchan. Diraihnya tangan soo ro dan digenggamnya erat.

‘Kenapa selama ini kau selalu melarangku mendekati jiyeon?’ tanya himchan pada soo ro yang masih terlelap dalam tidurnya.

Perlahan mata soo ro terbuka. Sepertinya kehadiran himchan telah mengusiknya.

‘Samcheon!’

‘Channie-ya!’ panggil soo ro lirih hampir tak terdengar. Soo ro memberi isyarat pada himchan agar mendekat. Sepertinya ada yang ingin dikatakannya pada keponakannya itu.

‘Ne samcheon!’ sahut himchan sembari mendekatkan telinganya ke mulut soo ro.

‘Jiyeon-nika ___ ni dongsaeng!’ lirih soo ro membuat himchan mengangkat wajahnya dan menatapnya dengan mata terbelalak.

‘Samcheo…’

‘Ni eomma ___ jiyeon-I eomma, orang yang sama!’ lanjutnya.

Deg!

Himchan terdiam. ‘Apa maksudnya ini? Aku dan jiyeon? Lalu semua berkas yang diberikan jang geomsa dan nam gyeongchal tadi….’

Himchan menggelengkan kepalanya berulang kali.

‘Aniya! Aniya! Maldo andwae!’ ujarnya menyangkal apa yang dikatakan soo ro.

Soo ro menatap himchan dengan tatapan sedih.

‘Samcheon! Bagaimana bisa…’ himchan mengantung kata-katanya. Wajahnya memucat dan menunjukan ekspresi yang begitu terkejut.

Himchan terus menatap soo ro berharap apa yang baru saja didengarnya adalah sebuah kebohongan. Sayangnya, himchan hanya menemukan kejujuran dari tatapan soo ro.

Himchan tertunduk. Detak jatungnya semakin tak menentu. Bagaimana bisa dia dan jiyeon… lalu…

‘Apa ini alasan kenapa kau melarangku mendekati jiyeon?’ tanya himchan yang mencoba menahan airmatanya yang sudah menggenang dan siap mengalir kapan saja.

Soo ro hanya menjawabnya dengan isyarat matanya.

‘Eugh….’ Erang himchan sembari tertunduk dan memegang kepalanya. Perlahan airmatanya mulai jatuh membasahi wajahnya.

‘Jadi… aku sudah menikahi adik kandungku sendiri?’ tanyanya tak bisa menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerangnya dan membuatnya kesulitan bernafas.

‘Jadi aku sudah meniduri adikku sendiri?’ tanyanya terdengar begitu memilukan.

Soo ro hanya menganggukan kepalanya dan ikut menitikkan airmatanya, melihat penyesalan dan rasa sakit yang dialami keponakannya dalam waktu yang bersamaan.

‘Eomma!… Eomma!..’ panggil himchan lirih. Isaknya semakin terdengar. Lama namja itu menangis menyesali apa yang telah dilakukannya. Hingga akhirnya dia tenang dan segera mengusap airmatanya.

‘Aku harus mengatakan semuanya pada jiyeon!’ ujar himchan siap melangkah meninggalkan soo ro. Tapi saat itu, ponselnya berdering.

‘Yeoboseyo! Ye jang geomsa!’

‘ … ‘

‘Ah, ye!’

‘ … ‘

‘Ye!’

Himchan melangkahkan kakinya keluar dari kamar soo ro. Sepertinya apa yang dibicarakannya dengan jang geomsa sangat penting. Dia keluar dan berdiri dikoridor yang tak jauh dari kamar soo ro.

Himchan masih asik berbicara dengan jang geomsa saat dia melihat sosok yang sangat dikenalnya melintas dikoridor lain dan berjalan menuju kamar soo ro.

Himchan menyelidik berharap dia salah lihat. Tapi kemudian dia menyadari kalau yang baru saja melintas dihadapannya memang orang yang dikenalnya. Jiyeon. Adik yang sudah diperistrinya.

‘Mianhaeyo geomsanim! Apa bisa kita lanjutkan pembicaraan ini nanti?’ tanya himchan yang sepertinya penasaran dengan kedatangan jiyeon kerumah sakit malam itu.

Himchan kembali ke kamar soo ro. Dengan langkah lebar dia segera melangkah. Tapi, dia terdiam saat jiyeon yang belum lama masuk kedalam kamar, sudah keluar dengan mengendap-endap.

‘Jiyeo…’ kalimat himchan tercekat ketika dia menoleh ke kamar soo ro dan mendapati namja paruh baya itu terlihat kesakitan dan sedikit kejang.

‘Samcheon!’

Himchan segera masuk kedalam kamar soo ro dan menggenggam tangan soo ro.

‘Samcheon….’ Panggil himchan yang terlihat panik. Dia segera menekan tombol bantuan agar para dokter dan suster datang.

‘Samcheon….’

‘Ji… yeon…’ ujar soo ro dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya. ‘Pel..la..kunya!’

Tiiiiiiiittttttttttttt……

‘Samcheon!’ panggil himchan semakin panik. ‘Samcheon!’ ulang himchan sembari berulang kali menekan tombol bantuan.

Dokter dan suster segera berdatangan. Semua terlihat sibuk dan memeriksa keadaan soo ro. Tapi….

Flashback end

Himchan hanya menatap jiyeon yang masih juga terlelap. Sakit. Dadanya terasa begitu sakit mengetahui kenyataan kalau gadis yang selama ini dicintainya adalah adik kandungnya sendiri.

Dan kenyataan lain yang membuat sakit hatinya bertambah parah adalah, kenyataan bahwa jiyeonlah yang melakukan semua pembunuhan ini. Dialah tersangka yang selama ini dicari.

***

Cahaya matahari mulai masuk melaui celah jendela kamar himchan dan jiyeon. Perlahan himchan membuka matanya dan mencoba menyesuaikan cahay yang masuk. Dia menegakkan tubuhnya dan kemudian tertunduk.

Himchan menatap dirinya yang ternyata tertidur disofa dan masih memakai pakaian yang sama dengan yang terakhir kali dipakainya kemarin. Tapi kemudian dia segera menoleh ke arah tempat tidur dimana jiyeon terbaring semalam.

Tak ada.

Dengan segera himchan beranjak dan mencari sosok jiyeon. Saat itu dia benar-benar panik. Segala pikiran buruk mulai menghantuinya. Apa jangan-jangan jiyeon melarikan diri dan kemudian membunuh orang lagi? Prasangaka itulah yang kini membuat himchan terlihat semakin tak bisa berpikir jernih.

Deg!

Langkah himchan terhenti tepat didepan pintu sebuha ruangan yang selama ini tak pernah terbuka. Pintu itu sudah tak terkunci dan terbuka sedikit. Membuat himchan yang penasaran akhirnya masuk kedalam ruangan itu.

Himchan hanya diam mematung dengan mata membulat ketika dia baru melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Ruangan yang penuh dengan foto dirinya. Tak ada satu senti pun dari ruangan itu yang tidak tertutup oleh gambar dirinya.

‘Masuklah oppa!’

Terdengar suara jiyeon mempersilahkan himchan masuk kedalam ruangan itu. himchan yang sedari tadi hanya terpana dengan apa yang dilihatnya, akhirnya masuk dan kemudian duduk disebuah kursi. Tepat dihadapan jiyeon.

Himchan menatap jiyeon yang masih tertunduk sembari memegang sebuah bingkai foto. Himchan bisa melihat, didalam foto itu ada seorang gadis kecil berumur 7 tahunan dan seorang wanita yang…

‘Eomma!’ panggil himchan dalam hati. Wajah difoto itu.wanita yang ada difoto itu adalah ibunya.

‘Aku merindukannya oppa!’ lirih jiyeon. Tatapan matanya kosong. Keadaan ini sama, seperti saat jiyeon menemukan mayat kim ahjumma yang ternyata dialah yang membunuhnya.

‘Aku merindukan eomma!’ ulang jiyeon.

‘Kenapa kau melakukannya?’ tanya himchan. Dia benar-benar ingin tahu kenapa jiyeon tega membunuh orang-orang disekitarnya.

Sejujurnya, himchan ingin sekali marah setelah semua yang dilakukan gadis itu. Tapi hatinya selalu menahannya. Perasaan cintanya dan juga kenyataan bahwa gadis itu adalah saudara kandungnya, membuatnya semakin tidak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.

‘Kenapa kau melakukannya jiyeon-a?’ ulang himchan dengan nada suara melunak. Perlahan airmata himchan mulai kembali menetes. Dadanya terasa begitu sesak mengingat semua yang terjadi selama ini.

Tak ada jawaban dari jiyeon. Gadis itu masih diam. Bahkan kini dia hanya menatap kosong ke arah himchan, dengan wajah memucat.

‘Jiyeon-a…’

‘Saranghae!’ lirih jiyeon sebelum akhirnya dia mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arah himchan. Airmatanya yang sedari tadi sudah mencoba ditahannya kembali jatuh dan membasahi kedua pipinya.

Himchan mendesah. Rasa sesak didadanya semakin menjadi ketika kalimat itu kembali keluar dari bibir istrinya yang ternyata adiknya itu.

‘Aku sangat mencintaimu oppa!’ ulang jiyeon yang tersenyum dalam tangisnya.

‘Jiyeon-a… neorang narang…’

‘Mereka…’ jiyeon menoleh menatap kearah sebuah papan dimana terdapat foto-foto orang yang sudah menjadi korbannya.

‘Selalu melarangku untuk mendekatimu!’ lanjutnya yang kembali menatap kosong kearah himchan. Butir-butir airmata masih terus mengalir membasahi kedua pipinya.

‘Aku hanya ingin bertemu denganmu dan mengatakan jika aku adalah saudaramu!’ jiyeon mulai bercerita. ‘Tapi appa, jungsoo oppa, tuan choi, bahkan kim ahjussi dan kim ahjumma pun selalu menghalangiku untuk bertemu denganmu!’

Lagi-lagi himchan hanya bisa membulatkan matanya. ‘Jadi selama ini kau tahu jika aku…

Jiyeon tersenyum dalam tangisnya. Tertunduk dan kemudian mengangguk lemah.

‘Lalu kenapa kau tidak…’

’Aku tidak ingin kau meninggalkanku oppa!’ potong jiyeon yang kini menatap himchan dengan tatapan penuh luka. ‘Kalau aku hanya adikmu…’ jiyeon menggantung kata-katanya. Diusapnya airmatanya yang masih terus saja jatuh membasahi kedua pipinya.

‘Mungkin suatu saat kau akan menikah dan meninggalkanku!’

Himchan mendesah. Apa hanya karena alasan itukah?

‘Eomma, sudah meninggalkanku! ___ Appa bahkan mengirimku ke kota hanya untuk menghapus ingatan sedihnya tentang eomma! ___ Jungsoo oppa…’

Jiyeon tersenyum masam setelah menyebut nama jungsoo.

‘Dia selalu berpura-pura menyayangiku! Padahal aku tahu, sebenarnya dia ingin aku mati sama seperti eomma!’

Himchan mendengarkan semua cerita jiyeon. Sedikit demi sedikit dia mengerti kenapa jiyeon melakukan semua ini. Tapi tetap saja ini semua terlalu berlebihan dan…

‘Aku pikir saat aku pulang, appa dan jungsoo oppa akan berubah!’ jiyeon kembali melanjutkan ceritanya. ‘Tapi ternyata tidak.’

‘Appa bahkan tak pernah mau bicara denganku sejak aku datang! ___ Aku selalu sendiri oppa! Sendiri!’

Hening. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut himchan. Yang terdengar hanya isak tangis dari bibir jiyeon.

Lama keduanya diam dalam kebisuan.

‘Jiyeon-a…’

‘Bisakah untuk sehari ini kau melupakan bahwa aku adikmu dan hanya menganggapku sebagai istrimu, oppa?’ tanya jiyeon dengan nada memohon.

Kalimat himchan terputus. Permintaan jiyeon padanya itu… kalau dia bisa pun, dia ingin jika jiyeon bukanlah adiknya. Dia juga ingin jika jiyeon hanya gadis yang sudah diperistrinya.

Jiyeon mengangkat wajahnya. ‘Aku sudah lelah oppa!’ potong jiyeon. ‘Aku lelah dengan semua ini!’ ulangnya.

‘Hanya hari ini! ___ Karena mungkin besok aku sudah tak bisa melakukannya lagi! ___ Aku hanya ingin memilikimu… tanpa takut kehilanganmu!’ akhir jiyeon.

Himchan terdiam. ditatapnya jiyeon yang tengah menatapnya dengan tatapan memohon. Hingga perlahan dia menganggukan kepalanya.

‘Hanya hari ini!’ ujar himchan.

Perlahan jiyeon tersenyum dan kemudian menggenggam tangan himchan.

Himchan menyanggupinya. Kemarahannya tak jauh lebih besar dari pada rasa cintanya pada gadis yang telah membunuh banyak orang itu.

Sehari. Hanya sehari ini saja. Setelah hari ini, himchan akan mengantar jiyeon untuk menyerahkan dirinya. Dan setelah hari ini, jiyeon bukan lagi istrinya. Jiyeon hanya adik yang memiliki ibu yang sama dengannya. Adiknya yang malang, yang selama ini hidup dalam kesendirian hingga membuatnya melakukan sesuatu yang menuurt banyak orang salah.

Jiyeon benar-benar bersikap seperti jiyeon biasanya. Menyiapkan makanan untuk himchan, makan bersama, ke peternakan bersama. Tak ada yang berubah. Dalam kepala gadis itu, dia hanya ingin menghabiskan semua waktu bersama dengan himchan sebelum esok datang. Karena esok, mungkin akan jadi akhir bagi mereka berdua.

***

Himchan duduk ditepi ranjangnya menunggu jiyeon yang sedang membuatkan teh untuknya. Pikirannya melayang. Jika malam ini dia harus melakukannya lagi, menyentuh jiyeon lagi, apa itu salah?

Kini dia tahu jika jiyeon adalah adik kandungnya. Jadi bagaimana mungkin dia melakukan hal itu lagi pada…

‘Kau sedang memikirkan apa oppa?’ tanya jiyeon yang baru saja masuk, memecah lamunan himchan.

Senyum terkembang di bibir himchan dia menggeleng pelan dan kemudian meraih cangkir teh yang disodorkan jiyeon padanya.

Jiyeon tersenyum dan duduk disamping himchan. Perlahan dia menyandarkan kepalanya dibahu himchan dengan manja. Dan hanya diam menatap himchan yang masih meneguk tehnya.

‘Oppa!’

‘Eum…’

Jiyeon melingkarkan tangannya dipinggang himchan. Didekapnya erat tubuh suaminya itu dari samping, dan dia membenamkan kepalanya didada bidang himchan.

Degdeg! Degdeg!

Detak jantung himchan memburu. Akal sehat dan nafsunya mulai berperang. Saat pikirannya mengatakan jika dia tak boleh melakukannya, tapi tubuhnya memberi penolakan dan perlahan mulai membalas dekapan jiyeon.

‘Eomma, mianhae!’ ujar himchan dalam hati ketika dia mulai mengecup ringan tengkuk jiyeon. Membuat tubuh gadis itu menegang.

‘Hanya untuk hari ini eomma! Biarkan aku mencintainya sebagai istriku!’ mohonnya lagi yang kemudian menarik tubuh jiyeon dalam dekapannya.

 

Malam semakin larut. Suara desahan dan erangan kenikmatan terus bergema dikamar jiyeon dan himchan. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah satu. Mereka hanya memiliki hari ini.

 

Pagi mulai menyapa. Himchan dan jiyeon masih terjaga. Jiyeon masih mendekap tubuh himchan dan menyandarkan kepalanya didada namja yang adalah kakak kandungnya itu.

Keduanya menatap kosong kearah depan. Himchan sesekali membelai kepala jiyeon dengan lembut. Akhir. Sudah saatnya semua ini mereka akhiri.

‘Oppa!’

‘Eum…’

‘Apa yang akan kau lakukan jika aku tak ada?’ tanya jiyeon lirih.

Himchan terdiam. Yah! jiyeon memang akan pergi untuk menyerahkan diri. Begitulah yang ada dipikirannya.

‘Apa kau akan merindukanku?’ tanya jiyeon lagi sebelum himchan menjawab pertanyaannya.

Tes! Tes!

Beberapa butir airmata akhirnya jatuh membasahi dada himchan. Jiyeon menangis.

Himchan ingin menghapus airmata itu. Tapi, entah kenapa tiba-tiba tangannya terasa kaku dan sulit digerakkan.

‘Mianhae oppa!’ jiyeon kini mengangkat kepalanya dan melepas dekapannya pada himchan. Dia meraih botol ampul dan sebuah siring (alat untuk injeksi).

‘Ji…. A….’

Kalimat himchan terhenti. Bibirnya terasa kelu. Dia tak bisa bicara. Bahkan perlahan tubuhnya terasa kaku dan benar-benar tak bisa digerakkan.

Jiyeon tersenyum dalam tangisnya. Dia sudah mengisi siringnya dengan larutan yang berasal dari ampul yang diambilnya tadi. Himchan hanya membulatkan matanya dan menatap jiyeon bingung.

Perlahan jiyeon menyuntikan larutan itu ketangannya sendiri. Membuat himchan semakin membulatkan matanya.

‘Oppa eobseumyeon, nan salsuga eobseo!’ (Kalau oppa tak ada, aku tak bisa hidup!) lirih jiyeon. Dikecupnya ringan bibir himchan. ‘Aku tak bisa hidup sebagai adikmu!’ lanjutnya.

‘Galikan sebuah kuburan untukku oppa!’ lirih jiyeon yang mulai terlihat kesakitan. ‘Buatkan tempat tinggal terakhir untukku!’ lanjutnya dengan kedua tangan mengepal menahan sakit. racun. Jiyeon sudah menyuntikan racun yang sama yang diberikannya pada soo ro pada dirinya sendiri.

‘Jiyeon-a!’ panggil himchan dalam hati. ‘Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan ini?’

Himchan hanya bisa menatap jiyeon yang terlihat kesakitan tanpa bisa berbuat apa-apa.

‘Sa.. rang.. hae.. ‘ ujar jiyeon terbata. Di sandarkannya kembali kepalanya didada himchan.

‘Saranghae…’ lirih jiyeon seperti bisikan. Perlahan tubuhnya melamah.

‘Andwae!’ himchan berteriak dalam hati ketika tubuh jiyeon melemas dalam dekapannya. ‘Jiyeon-a! andwae! Andwae! ANDWAE….!!!!’

… …

***

Seorang namja tengah berdiri didepan sebuah makam seorang gadis yang baru saja dimakamkan. Wajah tampannya tertutup kabut. Kesedihan yang teramat dalam terpancar dari kedua matanya.

‘Jiyeon-a! Kenapa kau melakukannya?’ tanya himchan pada makam dihadapannya. Yah! Makam itu adalah makam jiyeon.

Pagi itu, saat tubuh himchan kaku, ternyata jiyeon yang sudah menaruh racun dalam teh himchan, yang membuat tubuhnya kaku dipagi hari selama hampir 4 jam.

Didepan matanya, gadis yang sangat dicintainya. Istri dan juga adik kandungnya itu mati bunuh diri.

‘Apa kau tak memikirkan apa yang akan terjadi padaku jika kau tak ada?’ tanya himchan. Airmatanya kembali jatuh membasahi pipinya.

‘Gomawo oppa!’ lirih bayangan jiyeon yang sedari acara pemakaman berdiri disamping himchan. ‘Kau sudah menggalikan sebuah tempat tinggal terakhir untukku!’ katanya dnegan senyuman. Walau begitu airmatanya pun mengalir membasahi wajahnya.

Bayangan jiyeon mendekat kearah himchan yang sedang menangis. Dikecupnya pipi himchan lembut.

‘Mianhata… Saranghanta…’

Akhir jiyeon sebelum akhirnya bayangannya menghilang.

End…

***

Hehehe…

Selesai juga. Wah.. gaje yah! mian kalo ceritanya malah jadi aneh dan gaje.

Yang ini udahan yah. maaf kalo endingnya ga puguh dan ga sesuai dengan yang readersdeul harapkan.

Oke dech.. Jangan lupa tinggalkan komentar yah. author masih butuh kritik dan saran yang membangun loh…

Annyeong…

 

Iklan
 
29 Komentar

Ditulis oleh pada 16 April 2014 in FF

 

Tag: , ,

29 responses to “Mianhata… Saranghanta

  1. susi501

    16 April 2014 at 2:36 am

    Sad ending,,,,,,,
    Gak apa-apa lah,over all keren kok ff nya.

     
  2. uniiw

    16 April 2014 at 4:22 am

    ini sequel ya eonn?
    aku aga ga muddeng 🙂
    ahahha
    *peace

    sejujurnya, aku kurang dapet feelnya di awal, baru berasa diakhir-akhir,.
    oh iya, aku tetangga baru di dunia wp,.
    salam kenal,.
    mampir-mampir ke gubukku ya eon ^^

     
    • Shin Zia

      16 April 2014 at 4:50 am

      iy..ini last part grave digger series..
      Biar mudeng bca dr awal aj saengi..udh ad dlibrary ko list ny..
      Bangawayo..
      Iy ntar aq mampir.. 😉

       
  3. heeyeon

    16 April 2014 at 5:58 am

    ah… sequel..mau sequel

     
  4. kriswu17

    16 April 2014 at 6:56 am

    Sequel jebal thor aaaaaak

     
  5. dhietta

    16 April 2014 at 9:17 am

    Min kalo endingnya begini sih butus squell lagi .

     
  6. parkFitry

    16 April 2014 at 9:32 am

    aaaaaaa Daebakk!! tapi kenapa sad ending T_T
    dan kenapa jiyeon harus bunuh diri thor (?)
    huhuhu kasian himchan oppa {}

     
  7. nia joe or ljoe

    16 April 2014 at 11:28 am

    Jdi himchan dan jiyeon saudara…
    Kasian jiyeon…krna ia kesepian mmbuatnya melakukan hal yang salah….
    Mski sad ending tp ttp daebak…
    Nan joha…..
    Next jiyeon ff thor…

     
  8. Devi Jiyeonnie Wu

    16 April 2014 at 12:31 pm

    Sediiiiiih bgt …..
    G̲̮̲̅͡å’ kuasa nahan tangis (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)​

     
  9. djeany

    16 April 2014 at 1:45 pm

    ternyata jiyi tau,kl mereka bersaudara.niat awalx ingin memberi tau chanie kl mereka saudara tp akhirx malah mencintai sbg namja.ah q udah ngira pasti jiyi bunuh diri.ceritax keren.dtggu ff jiyeon lainx.

     
  10. djeany

    16 April 2014 at 1:48 pm

    knp hrs bersaudara,duh hdup jiyi dr pertama gak punya pegangan slalu sndiri.bahagia dluar tp sedih n kesepian didlm.

     
  11. raluhan

    16 April 2014 at 1:49 pm

    Keren sad endingnya

     
  12. dee na

    16 April 2014 at 2:04 pm

    Sad ending…ampe berkaca kaca baca nya

     
  13. Hyunbaek

    16 April 2014 at 2:53 pm

    Daebakk bngettt thor..
    Trnyata jiyeon udh tau dri awl klau mreka itu sodara..?!

     
  14. cochocobanana

    16 April 2014 at 3:28 pm

    duh ngenes bgt kenyataan klo mereka adek kakak. dr awal nelangsa bgt jiyi kesepian zzz. aigooo sad ending pula huhu. tp keren kok ff nya misteri ny dapet apalagi ngenes/sedih nyooo T.T dtumggu ff jiyeon lain model2 bgini dgn plot yg beda dan happy ending yaaa hehe #ngarep

     
  15. raya.jiyeon

    16 April 2014 at 11:00 pm

    yah sad ending tp gak v2 ff x bner2 keren …..

     
  16. Sonya

    17 April 2014 at 1:28 am

    Masih ngantung -,- sequel lagi

     
  17. KekasihWuYiFan

    17 April 2014 at 2:53 am

    Gilak ini ff bikin menguras otak berfikir lebih keras, aku kira pembunuh itu himchan ternyata jiyeon gue tertipu xD tapi utk keseluruham ceritanya kereeeeeennnnnnnnn banggeeeeeetttttttttttttt dan disini NC nya lebih ke thiller nya kan gaboleh juga buat anak kecil xD huhuy keren banget lah kayanya author ini sering ngeramein ff dgn ff yg beragam, aku sempet baca beberapa ff author yg dulu cuman gabisa di komen soalnya last post pas aku mau post komen aku, keren bingit iiiihhhhh ditunggu karya berikutnya 😀 jiyeon psykopat *bener ga sih nulisnya? Hhhh* jadi inget di mv number nine wajah jiyeon keliatan psikopatnya wkwkwkwk xD

     
    • Shin Zia

      17 April 2014 at 3:40 pm

      Wah..gomawo..
      T’lalu vulgar y thriller’y..mian..
      Anak”..jgn dtiru y.. 😀
      mksh komen’y..gni nich korban k’bnykn liat film..
      Dtgg aj y ff yg lain’y..
      Gomawo

       
  18. yuli

    17 April 2014 at 10:39 pm

    Sad ending. Hiks… Hiks..
    Ne ff bagus thor, q aja smpai menghayatinya.

     
  19. kyeon

    18 April 2014 at 7:43 am

    Ъќ nyangka himchan n jiyeon ternyata saudara. .
    Walaupun sad ending crtanya ttp dapat bgt feelnya….. di tngu ff jiyeon lainnya ….

     
  20. LiaHeechul_elf

    18 April 2014 at 10:03 am

    Feelnya dapat, cuman cerita itu bagusnya happy ending,
    Biar berasa bahagiannya,sekarang yg baca ikut sedih

     
  21. Fybbang's!

    19 April 2014 at 5:45 pm

    yeay._.

     
  22. 97queeny

    19 April 2014 at 9:37 pm

    keren >_<
    yah walaupun jiyeon jadi pysco dan sad ending gini..
    tapi ceritanya beneran keren menjebak gak terduga. love story himyeon yg angst jg bikin gregetan. Daebak!
    yg byun ditunggu lajutannya, palli! 😀

     
  23. dongrim

    24 April 2014 at 11:06 am

    oh my , sedarah, kacau,
    itulah komen saya

     
  24. bettybabybap

    26 April 2014 at 3:30 pm

    Rumit! Gila! Kacau! Berantakan!
    Kesian mereka thor T.T

     
  25. kartika hutabalian

    6 Mei 2014 at 6:08 am

    Benarbenar keren.. Di luar pikiran akan begini ceritanya.. Gak nyesal ngikutin ceritanya dari awal sampai ada squel2nya..

     
  26. myeondeong

    11 Mei 2014 at 3:44 pm

    Huaaaaa kirain jiyeon bkalan bunuh himchan juga trus nanti dia bnuh diri ,, trnyata gaaa yaaa , justru jiyeon yg bunuh diri ,,

     
  27. diah.dimin

    7 Februari 2016 at 8:52 pm

    huaaaaa g adil ni knp jiyinya mati… huks2 diakan hanya butuh cinta…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: