RSS

Love Pain Part 3

17 Mar

Love Pain Part 3

Author       : Shin Zia

Title            : Love Pain

Genre         : Romance, Sad

Cast            :

         Park Yoochun (JYJ) as Ji Yoochun

         Ji Jin hee (OC)

         Kim Yoojung (OC)

         Other cast

***

Annyeong…

Ini nich janji aku buat posting kisah Jin hee-Yoojung-Yoochun.

Oke dech.. jangan lupa tinggalkan komentar dan mohon jangan dibash yah.

Mian, masih banyak typo. Selamat membaca…

***

Jangan mencintaiku karena aku hanya akan memberimu luka. Kebahagiaan yang kau harapkan dariku, aku tak akan pernah bisa memberikannya.

Walau aku sudah berusaha untuk mencintaimu, tapi aku tetap tak bisa mencintaimu. Aku tetap tak bisa mengulurkan tanganku padamu. Tak bisa memberikan bahuku untuk tempatmu bersandar. Tak bisa menjadi pelindungmu, bahkan saat kau sangat membutuhkan perlindunganku.

Mianhata…

Ji Jin Hee

***

Yoojung hanya terdiam dan membulatkan matanya ketika jin hee tiba-tiba memotong kata-katanya dengan menciumnya. Detak jantungnya bahkan 2x lipat lebih cepat dari biasanya. Membuatnya kemudian hanya memejamkan matanya dan membiarkan jin hee menciumnya.

Jin hee masih terus menggenggam tangan yoojung dengan eratnya menyusuri koridor rumah sakit. Dari raut wajahnya, bisa terlihat kalau kekhawatiran masih bertengger disana.

Yoojung yang hanya mengikuti langkah jin hee, sesekali melirik kearah jin hee yang sejak tadi hanya diam dan tak lagi bicara. Dia masih mengatur detakan jantungnya yang masih juga bertalu.

Apa yang dilakukan jin hee padanya beberapa saat yang lalu membuat otaknya tidak lagi bisa berpikir. Semua yang dia rasakan saat ini hanya kebahagiaan. Dan dia yakin kalau jin hee akan membalas perasaannya sejak saat ini.

‘Aku antar pulang!’ ujar jin hee yang kahirnya mengeluarkan suaranya.

‘Aniyo, ahjussi!’ jawab yoojung menolak. ‘Rumahku tidak terlalu jauh! Lagi pula aku bisa…’

‘Aku akan mengantarmu!’ potong jin hee dingin. Dia lalu menarik tubuh mungil yoojung, membukakan pintu mobil dan memerintahkan yoojung untuk masuk tanpa penolakan dengan isyarat matanya.

Mau tidak mau, yoojung pun masuk kedalam mobil.

Selama perjalanan, jin hee kembali membisu. Yoojung yang kelelahan akhirnya hanya terlelap. Sesekali jin hee menoleh menatap wajah yoojung yang selalu saja terlihat tenang ketika tertidur. Pikirannya melayang.

Kejadian tadi membuatnya menyadari sesuatu. Menyadari bahwa dia takut, bahkan benar-benar takut kehilangan gadis yang sudah dikenalnya sejak gadis itu lahir.

Yoojung terbangun tepat ketika mobil yang ditumpanginya sampai didepan rumahnya. Dia turun dan hanya menatap jin hee yang berada dipintu lain dari mobil sedan hitam itu.

Jin hee kini berdiri dihadapan yoojung. Kekhawatiran yang tadi terlihat jelas diwajahnya sedikit memudar.

‘Kkomna?’ (Apa kau takut) tanya jin hee tetap mengkhawatirkan keadaan yoojung.

Yoojung hanya menggeleng dan tersenyum.

‘Nan kkomna!’ (Aku yang takut) ujar jin hee lagi membuat yoojung sedikit tersipu dan mengalihkan pandangannya untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya.

‘Masuklah!’ perintah jin hee.

Yoojung hanya mengangguk. Dia melangkahkan kakinya dengan ragu. Detak jantungnya begitu tak beraturan. Membuat dirinya semakin gugup. Baru beberapa langkah, yoojung membalik tubuhnya. Tersenyum pada jin hee yang masih berdiri menatapnya dan dengan ragu-ragu dilambaikannya tangannya.

Jin hee hanya menatap yoojung yang akhirnya menghilang di balik pintu rumahnya. Ditariknya nafas panjang. dan dia kembali kerumahnya.

Di tempat lain…

Yoochun hanya diam menatap hamparan sungai han yang kini ada dihadapannya. Wajah tampan yang biasanya menampakan senyuman itu kini terlihat dingin tanpa ekspresi.

Sudah hampir dua jam namja itu berdiri disana. Bahkan dinginnya angin malam itu tidak membuatnya segera meninggalkan tempat yang hanya dikunjungi beberapa orang saja.

Diliriknya arloji yang melingkar dilengan kanannya. 11 pm. Ditengadahkan kepalanya ke langit sembari memejamkan matanya. Mendesah. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang kerumahnya.

Skip time…

Jin hee masih diam diruang kerjanya. Kepalanya terasa begitu berat. Apa yang tadi dilakukannya pada Yoojung membuat semua keadaan semakin rumit.

Ya! Selama ini, selama dia berada disekitar yoojung, bahkan ketika tuan kim masih hidup, gadis itu memang selalu mengusik hatinya. Entah karena canda tawanya, entah karena kecerdasannya, atau entah karena alasan apa. Tapi gadis itu sudah menarik perhatiannya bahkan jauh sebelum gadis itu akhirnya menyatakan perasaannya padanya beberapa bulan minggu yang lalu.

Ditatapnya bingkai foto yang tergantung diujung ruang kerjanya dengan tatapan bersalah.

‘Mianhae!’ ujarnya lirih. Foto keluarganya. Dimana ada Hyun jung, Yoochun dan juga Bo young. Dadanya terasa semakin sesak, mengingat semua kenyataan yang harus dihadapinya.

Jin hee melangkah keluar dari ruang kerjanya, ketika yoochun baru pulang dan masuk rumah.

‘Baru pulang?’ tanya jin hee melihat putranya yang baru saja masuk kedalam rumah.

Yoochun menoleh dan menatap ayahnya itu dingin. ‘Ne!’ jawabnya singkat.

‘Eo! Sudah malam! Cepatlah beristirahat!’ lanjut jin hee sembari bersiap meninggalkan yoochun yang hanya berdiri menatapnya.

‘Abeoji!’

Langkah jin hee terhenti. Dia kembali berbalik menatap putranya yang masih berdiri ditempat yang sama seperti tadi.

Hening. Hanya suara jarum jam yang terdengar. Yoochun masih terus menatap ayahnya yang juga menatapnya. Tak ada satu pun yang memulai pembicaraan.

Dddrrrrttttt……

Jin hee langsung menatap ponselnya yang kini berdering. Dilihatnya si penelpon, dan dia langsung meninggalkan yoochun yang tanpa sengaja melihat nama si penelpon.

Yoochun hanya menatap punggung ayahnya yang berjalan menjauhinya dengan tangan mengepal menahan amarah. Rahangnya mengeras. Bahkan mungkin kedua matanya sudah mulai memerah.

Dengan langkah lebar, dia segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dadanya bergemuruh. Kalau saja dia masih berada dihadapan jin hee, mungkin dia akan menyerangnya.

Jin hee kembali keruang kerjanya ketika untuk menjawab ponselnya. Wajahnya masih menyisakan kebingungan.

‘Yeoboseyo!’

‘Ahjussi, naya! Yoojung-i!’

‘Eo! Wae? Apa lenganmu terasa sakit?’ tanya jin hee yang ternyata masih mengkhawatirkan keadaan yoojung.

‘Aniyo ahjussi! Geunyang…’

‘Tidurlah!’ potong jin hee dengan senyum tipis terukir dibibirnya. ‘Besok kita akan bertemu dikantor!’ lanjutnya.

‘Ne! jaljayo ahjussi!’

‘Emh! Neo tto jalja!’ akhir jin hee.

Setelah menutup sambungan telponnya dengan yoojung, jin hee kembali menarik nafas panjang. Dia tidak bisa memungkiri jika gadis itu kini sudah masuk dan semakin membuatnya terjatuh dalam pesonanya.

Dia kembali melirik foto yang sejak 3 tahun lalu terpajang didinding ruang kerjanya. ‘Mianhae! Sepertinya aku harus pergi!’ lirihnya terdengar berat.

***

Pagi sekali jin hee sudah menyiapkan semua barangnya. Hyun jung yang kala itu sedang menyiapkan sarapan pagi terkejut begitu melihat jin hee sudah mengepak semua barangnya.

‘Jin hee ssi!’

Jin hee menatap hyun jung yang kini berada dihadapannya dan kemudian memberi isyarat agar istrinya itu mengikutinya.

Hyun jung terlihat mengikuti langkah jin hee dengan sedikit gelisah. Perasaannya bercampur aduk. Entah apa yang akan dikatakan jin hee padanya, tapi seperinya itu bukan hal yang baik jika melihat suaminya itu sudah mengepak semua barangnya.

Jin hee dan hyun jung kini sudah berada diruang kerja jin hee. Namja paruh baya itu masih berdiri membalakangi istrinya dan seseklai menarik nafas panjang.

‘Hyun jung-a!’ jin hee membuka bicara. Dia berbalik menatap hyun jung yang sepertinya menunggunya melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.

Jin hee terdiam menatap hyun jung yang juga hanya diam menatapnya. Kata yang ingin disampaikannya terasa begitu berat. Membuatnya sulit untuk mengatakannya walau dengan suara yang sangat kecil sekali pun.

‘Apa yang ingin anda bicarakan?’ tanya hyun jung pada jin hee yang sampai saat itu tidak juga melanjutkan kalimatnya.

‘Apa… anda akan… pergi sekarang?’ tanya hyun jung ragu.

Jin hee diam. Tak ada jawaban. hanya saja, kediamannya itulah yang menegaskan kalau apa yang ditanyakan hyun jung padanya hanya memiliki satu jawaban. Ya. Dia akan pergi.

Hyun jung tersenyum. ‘Arrasseoyo!’ ujarnya seolah pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya itu padanya.

‘Mianhae!’ lirih jin hee. ‘Mianhata!’ ulangnya terdengar penuh penyesalan.

‘Aniyo!’ sahut hyun jung yang masih tersenyum pada jin hee. Walau hatinya sakit dengan keputusan suaminya itu, tapi mungkin inilah yang terbaik.

‘Aku yang seharusnya meminta maaf karena selama ini….’

‘Aku akan menjaga yoojung!’ potong jin hee.

Deg!

Kali ini, senyuman dibibir hyun jung sirna seketika ketika mendengar nama yoojung.

‘Jin hee ssi, chunnie-ka…’

‘Arra!’ potong jin hee seolah tahu apa yang akan dikatakan hyun jung selanjutnya. ‘Tapi aku sudah tak bisa membohongi perasaanku lagi!’ lanjutnya.

Hyun jung terdiam. Dia bisa mengerti jika jin hee yang selama ini memang tak pernah mencintainya itu pada akhirnya meninggalkannya. Tapi yoojung..??? Kenapa harus gadis yang dicintai putranya yang membuat jin hee akhirnya memilih meninggalkannya?

‘Untuk sementara aku akan tinggal diapartement lamaku!’ jin hee bersiap pergi. ‘Aku akan segera mengurus perceraian kita dan mengirim berkasnya!’ akhirnya yang kemudian meninggalkan hyun jung.

Degdeg! Degdeg! Degdeg!

Tubuh hyun jung merosot kelantai hingga ia terduduk. Perlahan airmatanya mengalir membasahi kedua pipinya. Dibekapnya mulutnya untuk mereda suara tangisnya dengan sebelah tangannya. Dan tangannya yang lain memukul dadanya beberapa kali. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang semakin membuatnya kesulitan bernafas.

Jin hee melangkah meninggalkan rumah besar yang selama ini menjadi tempat tinggalnya dengan keluarganya. Dia sudah mengambil keputusan yang mungkin bagi sebagian orang adalah gila. Tapi baginya, ini adalah satu-satunya keputusan yang bisa diambil agar semua orang tidak terluka.

Terdengar egois memang. Mengingat bukan hanya 1 orang yang akan terluka dengan keputusannya itu. 2 orang. Tapi bagi jin hee, itu ebih baik dari pada melukai 4 orang sekaligus. Dirinya, yoojung, yoochun dan hyun jung.

 

Yoojung tersenyum sembari menunggu jin hee datang diruangannya. Sesekali gadis itu melirik jam ditangannya, merasa waktu berjalan cukup lambat karena waktu dimana jin hee datang belum juga sampai.

Jin hee melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangannya. Senyum terukir dibibirnya ketika dia melihat yoojung sudah datang dan duduk disofa yang ada disana.

‘Sedang apa kau disini?’ tanya jin hee sedikit menggoda yoojung. Membuat gadis itu langsung menegakkan tubuhnya dan terlihat kikuk.

‘Jaega… jaega…’

Gadis itu lalu berlari kecil ke meja jin hee. Mencari sesuatu yang bisa digunakannya sebagai alasan. Sayangnya, tak ada satupun berkas yang tergeletak disana. Dan…

‘Apa kau mencari ini?’ tanya jin hee mengeluarkan sebuah map dari dalam tas yang dibawanya tadi.

‘Ne!’ jawab yoojung mengambil map itu dari tangan jin hee dan kemudian segera meninggalkan ruangannya.

‘Eo?’ jin hee terbengong ketika yoojung langsung mengambil map itu tanpa memeriksanya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis yang dicintainya itu.

‘Ish! Babo!’ ujar yoojung pada dirinya sendiri sembari memukul-mukul pelan kepalanya saat keluar dari ruangan jin hee. Dia mulai merutuki kebodohannya yang sengaja menunggu jin hee disana.

Dia kembali keruangannya dan menaruh map yang tadi dia ambil dari jin hee. Gadis itu msaih tersenyum-senyum sendiri jika mengingat apa yang dilakukannya beberapa menit yang lalu.

‘Keundae.. ini map apa?’ tanya yoojung ketika dia menatap map yang tadi dibawanya. Dia membuka map itu dan…

***

Yoochun hanya terdiam dikamarnya. Pembicaraan antara jin hee dan hyun jung tadi pagi yang dikupingnya membuatnya semakin benci pada ayahnya.

Sejujurnya dia tidak ingin mempercayai apa yang semalam dilihatnya dirumah sakit. Ya, yoochun melihat semua yang dilakukan jin hee pada yoojung. Karena semalam, dia juga menyusul yoojung kerumah sakit karena mengkhawatirkannya.

Tapi apa yang didengarnya tadi pagi, membuatnya mau tidak mau harus mempercayai apa yang dilihatnya itu.

Yoochun sudah tidak bia lagi menahan kemarahannya. Dia ingin sekali bertemu dengan jin hee dan menanyakannya langsung pada namja yang selama ini dikenal sebagai ayahnya itu.

Sepulang dari kampus, dengan segera dia melajukan mobilnya menuju gedung dimana jin hee bekerja. Yang ada dalam kepalanya kini hanya bertemu dengan jin hee.

 

Yoojung sudah berdiri didepan mobil jin hee menunggu namja itu turun ketampat parkir. Ditangannya, dia memegang map yang pagi tadi diberikan jin hee padanya. Dia tidak tahu apa dia harus senang atau sedih setelah dia tahu apa isi dalam map itu. Tapi sepertinya dia harus mengembalikannya pada jin hee.

Jin hee tersenyum ketika dia melihat yoojung sudah menunggunya. Namja itu melebarkan langkahnya agar segera sampai kehadapan yoojung.

‘Sudah lama?’ tanya jin hee.

Yoojung hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Saat itu, yoochun yang sengaja datang untuk menemui jin hee terdiam dan hanya duduk didalam mobilnya, melihat jin hee, ayahnya yang kini sedang bersama dengan gadis yang dicintainya.

‘Ayo!’ ajak jin hee pada yoojung. ‘Aku akan mengantarmu pul…’

‘Ahjussi!’ potong yoojung sebelum jin hee memintanya masuk kedalam mobilnya.

‘Ehm?’

‘Igeo…’

Jin hee terdiam ketika yoojung menyodorkan map yang tadi pagi dia berikan padanya. Namja itu kemudian meraihnya dan tersenyum masam.

‘Apa kau sudah melihat isinya?’ tanya jin hee memasukkan map itu dalam tasnya.

Lagi-lagi yoojung hanya menganggukan kepalanya.

‘Tadinya aku ingin mengatakannya langsung padamu!’ ujar jin hee. Dia membukakan pintu untuk yoojung dan kemudian berlari kearah berlawanan, membuka pintu lainnya untuknya.

Yoochun yang melihat semua itu, kemudian mengikuti kemana mobil jin hee melaju.

Selama perjalanan yoojung hanya terdiam. dia tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah tahu isi map itu. maka dari itu, diam baginya adalah cara yang terbaik.

Yoochun terus mengikuti mobil jin hee sampai mobil itu berhenti disebuah gedung apartement yang dia tahu disanalah jin hee memiliki sebuah apartement.

Jin hee membawa yoojung ke apartement lamanya yang kini kembali ditempatinya. Gadis itu terkejut ketika mengetahuinya.

‘Ahjussi! Wae…’

‘Aku tidak mungkin tinggal bersama hyun jung lagi!’ potong jin hee tenang. Dia kemudian mempersilahkan yoojung masuk.

Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Yoojung hanya bisa menatap jin hee yang kini tengah sibuk menyuguhkan minuman untuknya.

‘Minumlah!’ ujar jin hee menyodorkan minuman ringan pada yoojung. Namja itu kemudian duduk disamping yoojung.

Yoojung hanya menerima minuman itu dan tak meminumnya. Dia masih terus menatap jin hee yang kini duduk disampingnya. Dengan posisi seperti ini, yoojung bisa dengan jelas menatap wajah jin hee dari sisi kanan.

‘Aku sudah memilihmu!’ ujar jin hee memecah keheningan. Membuat yoojung membulatkan matanya.

‘Maka dari itu aku harus…’

‘Gomawoyo!’ potong yoojung yang kemudian memeluk pinggang jin hee dan menyandarkan kepalanya dibahu jin hee.

‘Gomawo!’ ulang yoojung sembari tersenyum. Jin hee merangkulkan tangannya ke bahu yoojung.

‘Seharusnya aku yang berterima kasih!’ sambung jin hee.

‘Karena kau…’

‘Abeoji!’

…..

TBC

***

Oke.. Oke… makasih buat yang udah mampir..

Annyeong…

Iklan
 
17 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Maret 2014 in FF

 

Tag: , , , ,

17 responses to “Love Pain Part 3

  1. dina

    17 Maret 2014 at 1:05 am

    Wow….bakalan seru nicb part slanjutnya
    .

     
  2. tamara

    17 Maret 2014 at 3:35 am

    huaaaaa gak sabar nungg part selanjutnya >,<

     
  3. Rinie moet

    17 Maret 2014 at 5:28 am

    Oooooch not bukan hal yg bagus… Jadi k’inget drama yg d’moretv eung

     
  4. zysha moe

    17 Maret 2014 at 5:35 am

    Next cepet yaaaaa

     
  5. IMYM

    17 Maret 2014 at 7:46 am

    Wah bklan seru nih

     
  6. ChoKyu

    17 Maret 2014 at 8:48 am

    sebenernya aku kasihan sama yoochun , tapi emang gmn lagi jin hee lebih milih yoojoung yoochun buat aku aja -,- *maunya

     
  7. Welly

    17 Maret 2014 at 9:25 am

    Ahhhhh ngak sabar nunggu part slanjut

     
  8. nadya

    17 Maret 2014 at 9:52 am

    cepetan di post part selanjutnya ya…!!!

     
  9. Kasma libhy

    18 Maret 2014 at 1:31 am

    Makin seruu,, Kayaknya bakal ad perang nihh,,,

    next ^^

     
  10. yukikaze

    18 Maret 2014 at 8:09 am

    Nyesek ih bcanya… ahjusi tinggalin istrinya krn cinta sama cewek yg pntas jd anaknya.. pa lgi tu cewek jg dcintai anak kandungnya.. aduh aduh… si Yoojung apa gak merasa brslah y menghancurkan keharmonisan kluarga yg slama ini jagain dy dan adiknya..
    Cinta mmg gak pandang usia…

     
  11. susi501

    18 Maret 2014 at 12:55 pm

    KyaAaA,,,,,,,,
    Penasaran kelanjutan nya

     
  12. @IndahRyeo

    20 Maret 2014 at 1:15 pm

    ommooooonaaaaaaaaaaaaaa :O
    demiiii appaaa ..
    penasaran sangat kajjja di next , di tnggu sece:)

     
  13. Clara kim

    20 Maret 2014 at 2:54 pm

    Lanjuut

     
  14. choanisa

    22 Maret 2014 at 1:47 am

    Reblogged this on ff (fan faction sweet heart).

     
  15. umi_ali

    22 Maret 2014 at 10:30 am

    Hadeeew… Ribet sekali…
    Kisah cinta yg njelimet

     
  16. venny_98

    29 Maret 2014 at 5:18 am

    nyesek thorr.. yoonchun gimana ya pasti perasaannya kalut, sinii” sm aku aja #plakk
    hahaha.. lanjut thor penasaran sm endingnya

     
  17. jirinkwon10

    26 April 2014 at 10:29 pm

    cerita.a bikin penasaran
    next part.a ti tunggu yah,,

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: